Showing posts with label intermezo. Show all posts
Showing posts with label intermezo. Show all posts

Lirik Kuno Navajo (10) : Bantuan kawan lama

Wednesday, June 1, 2016 | comments

Tuk!

Sebuah perkenaan kecil membuat bola golf itu meluncur mendekati lubang. Sayang sekali, kurang dari 10 cm menuju lubang, bola itu berhenti. Dua orang pria paruh baya yang berdiri sekitar 6 yard dari lubang tersebut memberikan respon yang berbeda satu sama lain atas kegagalan bola tersebut untuk mencapai lubang.

“Aaarggghhh!!!”, seru pria pertama yang baru saja memukul bola tersebut dengan stik yang dipegangnya. Sambil mengepalkan jemarinya, dia mengayunkan lengannya seperti sedang meninju sesuatu, dia menunjukkan expresi kekesalannya.
“Wuuuhhuuu…”, seru pria yang seorang lagi senang. “Kini giliranku dan kamu tidak akan mendapatkan ‘Birdie’ kawan”.

Yang dimaksudkan oleh pria kedua tersebut adalah sebuah istilah skor dalam olahraga golf. Jelas sekali mereka berdua sedang bertanding golf.


“Rumputnya tidak dipotong dengan benar,” keluh pria pertama yang sepertinya masih belum menerima kegagalannya memasukkan bola.
“Ah Alex… itu karena pukulanmu seharusnya sedikit lagi ditambah tenaganya.”

Mereka berdua berjalan mendekati lubang yang ditandai dengan bendera. Pria yang dipanggil Alex adalah Alexander Spearwood, seorang pengacara sukses yang memiliki reputasi yang dikenal luas. Sementara pria yang satu lagi adalah Walter Greg, atau biasa dipanggil Walt, seorang ahli pemetaan udara yang telah memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya.

Mereka belum lama bertemu kembali, yaitu sekitar seminggu sebelumnya, setelah bertahun-tahun tidak berjumpa. Keduanya berasal dari universitas yang sama namun berbeda fakultas. Keduanya memiliki prestasi yang baik di fakultas masing-masing dan aktif dalam kegiatan olahraga bersama. Setelah 15 tahun lewat, secara kebetulan mereka bertemu lagi dalam sebuah lelang barang antik dan saling bertukar kontak.

Setelah seminggu, mereka memutuskan untuk bermain golf bersama sekaligus bersantai sambil mengenang masa lalu. Namun bukannya menjadi lebih santai, Alex malah mendapatkan berita yang membuatnya menjadi berpikir keras. Alex mendapatkan informasi samar dari Walter tentang gambaran pekerjaan yang sedang dilakukan Peter adiknya. Walter juga mengabarkan resiko pekerjaan yang bisa saja diterima oleh adiknya. Walter memiliki informasi tersebut karena dia pun pernah bekerja untuk pihak yang sama yang saat itu juga sedang mempekerjakan Peter.

Tadinya Alex ingin menggali lebih banyak lagi informasi namun sayang Walter mendapat panggilan urgen yang harus segera dipenuhinya. Mereka pun berpisah dan tidak menyelesaikan permainan golf mereka hingga lubang yang terakhir. Mereka berjanji akan bertemu kembali pada kesempatan berikutnya. Dalam perjalanan pulang, Alex memikirkan semua informasi yang diterimanya dari Walter. Dia jadi sangat memikirkan tentang apa dan bagaimana kabar Peter adiknya saat itu berdasar informasi tersebut. Namun informasi tersebut semuanya bersifat tidak pasti dan Alex belum benar-benar memahami keseluruhan ceritanya. Karena itulah, Alex sangat menantikan waktu pertemuan berikutnya dengan teman lamanya itu dan akan menanyakan lebih banyak lagi informasi yang dibutuhkan agar semuanya menjadi jelas.
Lirik Kuno Navajo (10) : Bantuan kawan lama
Lirik Kuno Navajo (10) : Bantuan kawan lama
Sungguh sayang, pertemuan tersebut yang merupakan pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun ternyata juga sekaligus adalah pertemuan terakhir mereka. Walter secara misterius meninggal di kamar tidurnya pada malam hari setelah pertemuan tersebut. Keesokan harinya, Alex mendapat informasi di telepon genggamnya yang mengabarkan tentang meninggalnya Walter akibat serangan jantung pada malam sebelumnya. Pesan tersebut dikirimkan ke semua kontak dalam telepon genggam Walter oleh putra dari Walter sebagai notifikasi untuk semua kolega. Sontak Alex pun kaget mendapatkan kabar duka yang mengejutkan tersebut.

Sehari sebelumnya Walter terlihat sangat sehat dan sama sekali tidak menunjukkan gejala sakit. Dia bahkan bercerita tentang kebiasaan lamanya yang masih dijaganya yaitu berjoging setiap 3 hari. Tidak seperti Alex yang dua kali dirawat di rumah sakit karena penyakit lamanya kambuh dalam setahun terakhir, Walter bahkan tidak pernah sekalipun mengalami sakit pada tahun itu. “Jika dia begitu sehat, mengapa dia bisa terkena serangan jantung”, demikian pikir Alex.

Rasa curiga Alex pun muncul. Jika bukan karena sakit jantung lalu karena apa? Sebagai seorang pengacara yang biasa berurusan dengan pihak berwenang, Alex mengetahui bahwa terdapat banyak “cara” untuk membuat seseorang mengalami serangan jantung. Apalagi Walter baru saja menyelesaikan sebuah proyek “futuristik” yang seharusnya di rahasiakannya dengan rapat. Selama ini Walter memang mampu menjaga kerahasiaan informasi ini, namun kemarin Walter menceritakannya kepada Alex pada saat sedang bermain golf.

Perasaan curiga itu kemudian semakin kuat karena pada saat melayat dan menghadiri pemakaman Walter, Alex melihat dan mendengar beberapa hal yang dirasakannya ganjil. Karena itulah sepulang dari pemakaman Walter, Alex mulai memikirkan cara untuk “mengeluarkan” Peter dari tempat dia bekerja saat itu. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari Shannon, istri Peter, Alex mulai menghubungi kolega-koleganya yang mungkin dapat membantu upayanya tersebut.

*******************

“Disini radio Pajarito Country menyapa anda. Ingatlah, meski apa yang datang dari langit tidak selalu indah, tapi hidup harus terus berjalan. Jadi tetaplah bertahan, tangguh, dan bijaksana. Terima kasih dan sampai jumpa lagi. Selamat malam.”

“Nakai, kamu masih ingat tuan Alex? Dia yang membela kita dalam kasus pencemaran sungai dekat reservasi sekitar 12 tahun lalu.”, demikian kalimat perkenalan yang dikatakan kepala suku Charanimo terhadap Nakai ketika baru saja selesai membawakan acara radionya.
“Ya… Nakai tentu saja ingat. Ada kepentingan apakah seorang Navajo yang jauh menyapa kami yang dekat di malam penuh bintang begini?”, Nakai menjawab.

“Tuan Nakai, kamu membawakan acara radio yang menarik. Saya suka mendengarkannya. Bagus sekali.”, Alex pun membuka pembicaraan dengan Nakai yang disaksikan oleh kepala suku Charanimo.
“Terimakasih. Nakai hanya ingin menyadarkan banyak orang bahwa kita hidup dalam bahaya dan harus senantiasa berhati-hati.”
“Tepat sekali. Karena itulah saya membawa banyak informasi yang dapat membuat acaramu menjadi lebih semarak.”
“Informasi apakah itu? Tentunya berhubungan dengan acara yang dibawakan Nakai kan?”
“Tentu saja. Informasi yang lebih detail tentang begitu banyak konspirasi yang terjadi di negara ini maupun di dunia luar.”
“Nakai ingin mendengar dulu seperti apa informasi-informasi itu.”
“Tentu. Kita bisa berbicara tentang itu nanti. Saya juga akan membantu radiomu agar memiliki pemancar yang lebih kuat dengan waktu siaran yang lebih lama jika kamu berkenan.”

Nakai terdiam sejenak sebelum kemudian berbicara, “Hmmm… Nakai berpikir untuk apakah tuan Navajo yang jauh mau melakukan itu untuk Nakai?”

“Begini….”, kata Alex mulai bercerita. Sambil bercerita, Alex juga mengeluarkan foto-foto adiknya dan beberapa dokumen lainnya untuk melengkapi ceritanya.

*******************

Apa yang diceritakan Walter? Wajarkah kematiannya? Dan apa yang dibicarakan antara Alex, Nakai dan sang kepala suku?

Tunggu lanjutan “dongeng” Navajo ini berikutnya….

By patsu Namraenu Biro Jabodetabek
Gambar by Google dan Patsus Citox

http://patriotgaruda.com/2016/03/04/lirik-kuno-navajo-10-bantuan-kawan-lama/

Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru

| comments

“Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya olehku?”, Peter seperti merutuki dirinya sendiri. “Sudah 3 bulan berlalu dan saya baru menemukan ide ini sekarang.”

Di ruang depan lab quantum, Peter seorang diri mengutak-atik “dekoder” yang tersambung ke pesawat TV. Dia sedang menentukan setting pencarian frekuensi pencarian lewat komputer laptopnya yang tersambung ke alat tersebut. Setelah menentukan frekuensi mula pencarian pada frekuensi FM, dia pun mulai melakukan pencarian. Di pesawat televisi hanya terlihat cahaya biru namun dengan suara yang berganti-ganti pada setiap siaran radio yang tertangkap. Pada setiap siaran radio yang terdengar, Peter mendengarkan dengan seksama seolah menunggu sesuatu. Jika dia merasa dia tidak yakin dengan apa yang didengarkannya maka dia pun meneruskan pencarian dengan memindahkan pada frekuensi berikutnya yang tertangkap.

Saat itu sudah hampir jam 2 malam dan seluruh ruangan berada dalam kesunyian. Kemungkinan besar semua pekerja telah tidur atau berada di kamarnya masing-masing. Mungkin masih ada beberapa orang di ruang workstation atau ruang experimen namun nyaris tak ada suara yang terdengar dari semua ruangan. Tidak ada lagi yang berlalu lalang di dalam lab maupun pada koridor-koridor penghubung antar lab. Meskipun akses pada setiap ruang workstation, ruang experimen dan kamar hanya berlaku bagi individu yang bekerja dalam lab tersebut, pintu-pintu utama dan ruang depan laboratorium bisa diakses oleh seluruh pekerja yang diizinkan memasuki “Hive”. Sarang atau “hive” adalah istilah bagi seluruh area gedung bawah tanah yang dapat diakses satu sama lain lewat koridor utama. Terdapat 6 lantai dalam “sarang” yang setiap lantainya dapat diakses lewat lift tengah. Sedangkan untuk ke permukaan terdapat lift khusus pada ujung koridor setiap lantai yang dapat diakses setelah melewati 3 bagian yang masing-masing dibatasi oleh sebuah pintu baja anti ledakan, pintu kaca tebal anti peluru dan koridor panjang.

“Dimana frekuensi radiomu pak tua? Apakah radiomu masih memancarkan siaran di jam begini malam?”, Peter berbicara kepada dirinya sendiri.

Setelah berkali-kali mengganti frekuensi pencarian, menajamkan filter dan mencoba berbagai wilayah penerimaan modulasi, Peter sepertinya sudah menemukan yang dicarinya. Pada jeda dari siaran radio yang sedang didengarkannya saat itu, terdengar sebuah yodel Navajo yang diiringi dengan tetabuhan khasnya. Meskipun tidak begitu lama, Peter merasa bahwa itulah siaran radio yang dicarinya. Namun siaran tersebut tidak lagi dilayani oleh seorang penyiar dan hanya berupa kumpulan lagu-lagu country dengan sesekali diselingi yodel-yodel yang khas Navajo tersebut. Kemungkinan karena waktu siaran tersebut sudah terlalu larut malam maka tidak ada lagi penyiar yang menungguinya.

“Baiklah… sepertinya inilah radio tersebut. Aku akan coba dengarkan lagi besok ketika ada kesempatan. Semoga si Indian tua Nakai itu juga sedang siaran. Mungkin saja ada informasi yang bisa aku dapatkan!”, demikian yang dipikirkan Peter. Peter mencatat frekuensi radio tersebut yang berada dalam rentang FM dan ternyata dipancarkan masih di sekitar Los Alamos. Diapun meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya untuk tidur.

*****
Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
“Disini radio Pajarito Country menyapa anda. Ingatlah, meski apa yang datang dari langit tidak selalu indah, tapi hidup harus terus berjalan. Jadi tetaplah bertahan, tangguh, dan bijaksana.”

Peter mendengarkan kalimat sapaan radio tersebut dengan seksama. Dia semakin yakin bahwa ini adalah siaran radio yang diawaki oleh Nakai, si Indian tua yang dilihatnya di televisi 3 bulan lalu. Setelah seharian sibuk dengan urusan pekerjaan, Peter bersegera menuju ruang depan lab quantum tempat dimana TV dan dekoder tersebut berada. Mujur baginya tidak ada pekerja lain yang sedang menonton TV. Sebenarnya ruang depan pada setiap lab juga tersedia pesawat TV namun hanya ruang ini yang memiliki dekoder dengan kemampuan lebih. Salah satu kemampuan tersebut adalah memilah sinyal-sinyal radio dari berbagai arah yang tertangkap ladang antena di permukaan dan memperdengarkannya.

“.. dan kini kita telah bersama ‘Si Penatap Bintang’ Nakai Stargazer yang akan menjawab berbagai pertanyaan anda tentang fenomena aneh yang sulit untuk ditemukan penjelasannya.”

Kemujuran memang sedang berpihak kepada Peter. Inilah radio yang dicarinya. Dan bukan hanya itu, tepat saat itu si Indian tua yang ditontonnya waktu itu sedang bersiap untuk memulai acaranya. Ternyata memang benar dugaannya, Nakai membawakan acara yang berhubungan dengan fenomena-fenomena aneh yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Jika dia hidup dan tinggal di seputar sini maka bukanlah sesuatu yang mengherankan apabila dia memiliki informasi yang berhubungan dengan kegiatan ladang antena yang berada di permukaan “sarang”. Siapa tau saja akan ada juga penjelasan tentang sinyal-sinyal aneh beberapa hari lalu yang terpancar dari ladang antena tersebut dan terekam dalam komputernya.

“Ya… mari kita dengarkan penelepon pertama”, kata penyiar yang mendampingi Nakai.
“Nakai, kamu sudah dengar tentang seorang peternak di Oregon yang menemukan sapi-sapinya telah terpotong bagian perutnya dengan potongan yang sangat rapi dan hilang semua organ dalamnya?”, tanya penelepon pertama.
“Ya… itu sudah sering terjadi. Organ-organ itu diambil untuk menggandakan mahluk-mahluk jahat itu.”, jawab Nakai yakin.
“Saya tidak yakin tentang itu Nakai tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan. Ketika peternak itu mendekati sapi-sapinya yang telah mati. polisi malah menembaknya. Mereka menuduhnya menghalangi pemeriksaan dan mengancam petugas dengan senjata. Padahal istrinya jelas sekali bersaksi bahwa suaminya pada saat itu tidak membawa senjata sedangkan senjata yang ditemukan di dekat mayat suaminya bukanlah senjatanya. Apa lagi ini? Kenapa bisa seperti itu?”, penelepon pertama tersebut menjelaskan dan bertanya dengan panjang lebar.
“Jelas sekali. Itu sebuah konspirasi. Seperti yang selalu saya katakan, pemerintah dan aparatnya telah bekerjasama dengan mahluk-mahluk jahat itu.”, Nakai menyimpulkan sendiri.

Demikianlah setiap penelepon mengadukan dan menceritakan semua pendapat mereka tentang berbagai pengalaman aneh baik yang dialami sendiri maupun bukan. Ada yang berbicara tentang piring terbang, mahluk yang tiba-tiba saja muncul dari sebuah portal, pengalaman pindah lokasi setelah hilang kesadaran dan berbagai pengalaman aneh lainnya. Tidak ada yang berbicara tentang ladang antena apapun dengan sinyal-sinyal aneh yang dihasilkannya. Sampai akhirnya pertanyaan dari penelepon yang kesekian menarik perhatian Peter.
Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
“Nakai... apakah kamu melihat bayangan malaikat yang muncul di langit beberapa hari lalu?”, tanya penelepon itu.
“Ya saya melihatnya. Saya sedang tidur sampai kemudian suara-suara gaduh membangunkan saya. Orang-orang berkata, ‘Nakai…nakai… kamu harus melihat itu’.”
“Menurutmu apakah itu? Apakah itu malaikat sungguhan? Mungkinkan malaikat itu yang akan menolong kita dari mahluk-mahluk jahat itu?”
“Sama sekali tidak. Itupun tipuan mereka. Itu adalah bagian dari proyek sinar biru. Sebuah proyek yang memproyeksikan seolah sesuatu yang agung datang dari langit. Mereka berharap kita percaya dan tertipu. Sama sekali tidak… jangan percaya itu.”

Sebuah “malaikat”? Itukah proyeksi obyek berbentuk “X” atau “Y” yang terlihat saat itu? Peter berpikir sambil terus mendengarkan.

“Bagaimana cara kerjanya? Saya tidak melihat ada lampu sorot dipancarkan”
“Saya juga tidak tahu tapi saya yakin ada hubungannya dengan ladang antena yang ada di Los Alamos sana.”

Jawaban Nakai itu membuat Peter semakin keras berpikir dan bertanya dalam hati. Apakah salah satu kegunaan ladang antena itu memang untuk hal seperti itu? Untuk menipu masyarakat? Setelah masyarakat tertipu dengan obyek palsu yang terlihat di langit lalu apakah yang terjadi selanjutnya? Peter semakin resah membayangkan bahwa dia mungkin telah bekerja untuk sebuah proyek konspirasi yang membahayakan masyarakat maupun dunia.

Beberapa penelepon lagi menanyakan hal-hal yang berbau konspirasi dan Nakai sedapat mungkin berusaha menjawabnya. Tidak seluruh jawabannya masuk akal tapi itu bisa dipahami mengingat hal-hal yang ditanyakanpun banyak yang diluar nalar. Seluruh proses interaksi antara Nakai dan para peneleponnya didengarkan Peter dengan seksama hingga penelepon terakhir selesai. Peter hanya bisa menghela nafas membayangkan “hiruk pikuk” yang terjadi jika semua yang dikatakan para penelepon tersebut benar adanya. Yang dia butuhkan sekarang adalah berbaring sejenak dan memikirkan semua kemungkinan yang ada, termasuk kemungkinan untuk melarikan diri.

Dan ketika Peter bersiap untuk meninggalkan ruangan itu dan baru saja akan mematikan TV, Peter tersentak dengan kata-kata penutup dari Nakai si Indian tua pembawa acara itu. Nakai mengatakan sesuatu dalam bahasa Navajo dan pesannya dengan sangat jelas dimengerti oleh Peter. Kalimat penutup dari Nakai tersebut adalah

“Untukmu Piataru, larilah. Kamu tidak aman!”

APA???

Piataru adalah jelas sebutan untuk seseorang bernama Peter dalam aksen Navajo. Seorang “Peter” yang harus lari dari situasinya karena tidak aman. Kepada siapakah pesan Nakai ini ditujukan? Jika memang untuk dirinya, bagaimana mungkin si Indian tua ini sampai dua kali secara khusus mengirimkan pesan untuknya? Ini jelas bukan lagi kebetulan karena ini yang sudah kedua kalinya. Siapa sebenarnya Nakai ini dan apakah dia memang mengenalku, Dan darimana dia tahu kalau aku mendengarkan? Peter sibuk menduga-duga di tengah keterkejutannya.

*******

Seperti biasa, “dongeng”nya bersambung lagi
By Patsus Namraenu Biro Jabodetabek
Gambar by Google dan Patsus Dede Sherman

http://patriotgaruda.com/2016/02/21/lirik-kuno-navajo-9-proyek-sinar-biru/

Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru

Friday, April 29, 2016 | comments

diambil dari patriotgaruda.com

Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
================================================

“Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya olehku?”, Peter seperti merutuki dirinya sendiri. “Sudah 3 bulan berlalu dan saya baru menemukan ide ini sekarang.”

Di ruang depan lab quantum, Peter seorang diri mengutak-atik “dekoder” yang tersambung ke pesawat TV. Dia sedang menentukan setting pencarian frekuensi pencarian lewat komputer laptopnya yang tersambung ke alat tersebut. Setelah menentukan frekuensi mula pencarian pada frekuensi FM, dia pun mulai melakukan pencarian. Di pesawat televisi hanya terlihat cahaya biru namun dengan suara yang berganti-ganti pada setiap siaran radio yang tertangkap. Pada setiap siaran radio yang terdengar, Peter mendengarkan dengan seksama seolah menunggu sesuatu. Jika dia merasa dia tidak yakin dengan apa yang didengarkannya maka dia pun meneruskan pencarian dengan memindahkan pada frekuensi berikutnya yang tertangkap.
 Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
 Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
Saat itu sudah hampir jam 2 malam dan seluruh ruangan berada dalam kesunyian. Kemungkinan besar semua pekerja telah tidur atau berada di kamarnya masing-masing. Mungkin masih ada beberapa orang di ruang workstation atau ruang experimen namun nyaris tak ada suara yang terdengar dari semua ruangan. Tidak ada lagi yang berlalu lalang di dalam lab maupun pada koridor-koridor penghubung antar lab. Meskipun akses pada setiap ruang workstation, ruang experimen dan kamar hanya berlaku bagi individu yang bekerja dalam lab tersebut, pintu-pintu utama dan ruang depan laboratorium bisa diakses oleh seluruh pekerja yang diizinkan memasuki “Hive”. Sarang atau “hive” adalah istilah bagi seluruh area gedung bawah tanah yang dapat diakses satu sama lain lewat koridor utama. Terdapat 6 lantai dalam “sarang” yang setiap lantainya dapat diakses lewat lift tengah. Sedangkan untuk ke permukaan terdapat lift khusus pada ujung koridor setiap lantai yang dapat diakses setelah melewati 3 bagian yang masing-masing dibatasi oleh sebuah pintu baja anti ledakan, pintu kaca tebal anti peluru dan koridor panjang.


“Dimana frekuensi radiomu pak tua? Apakah radiomu masih memancarkan siaran di jam begini malam?”, Peter berbicara kepada dirinya sendiri.

Setelah berkali-kali mengganti frekuensi pencarian, menajamkan filter dan mencoba berbagai wilayah penerimaan modulasi, Peter sepertinya sudah menemukan yang dicarinya. Pada jeda dari siaran radio yang sedang didengarkannya saat itu, terdengar sebuah yodel Navajo yang diiringi dengan tetabuhan khasnya. Meskipun tidak begitu lama, Peter merasa bahwa itulah siaran radio yang dicarinya. Namun siaran tersebut tidak lagi dilayani oleh seorang penyiar dan hanya berupa kumpulan lagu-lagu country dengan sesekali diselingi yodel-yodel yang khas Navajo tersebut. Kemungkinan karena waktu siaran tersebut sudah terlalu larut malam maka tidak ada lagi penyiar yang menungguinya.

“Baiklah… sepertinya inilah radio tersebut. Aku akan coba dengarkan lagi besok ketika ada kesempatan. Semoga si Indian tua Nakai itu juga sedang siaran. Mungkin saja ada informasi yang bisa aku dapatkan!”, demikian yang dipikirkan Peter. Peter mencatat frekuensi radio tersebut yang berada dalam rentang FM dan ternyata dipancarkan masih di sekitar Los Alamos. Diapun meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya untuk tidur.

*****

“Disini radio Pajarito Country menyapa anda. Ingatlah, meski apa yang datang dari langit tidak selalu indah, tapi hidup harus terus berjalan. Jadi tetaplah bertahan, tangguh, dan bijaksana.”

Peter mendengarkan kalimat sapaan radio tersebut dengan seksama. Dia semakin yakin bahwa ini adalah siaran radio yang diawaki oleh Nakai, si Indian tua yang dilihatnya di televisi 3 bulan lalu. Setelah seharian sibuk dengan urusan pekerjaan, Peter bersegera menuju ruang depan lab quantum tempat dimana TV dan dekoder tersebut berada. Mujur baginya tidak ada pekerja lain yang sedang menonton TV. Sebenarnya ruang depan pada setiap lab juga tersedia pesawat TV namun hanya ruang ini yang memiliki dekoder dengan kemampuan lebih. Salah satu kemampuan tersebut adalah memilah sinyal-sinyal radio dari berbagai arah yang tertangkap ladang antena di permukaan dan memperdengarkannya.

“.. dan kini kita telah bersama ‘Si Penatap Bintang’ Nakai Stargazer yang akan menjawab berbagai pertanyaan anda tentang fenomena aneh yang sulit untuk ditemukan penjelasannya.”

Kemujuran memang sedang berpihak kepada Peter. Inilah radio yang dicarinya. Dan bukan hanya itu, tepat saat itu si Indian tua yang ditontonnya waktu itu sedang bersiap untuk memulai acaranya. Ternyata memang benar dugaannya, Nakai membawakan acara yang berhubungan dengan fenomena-fenomena aneh yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Jika dia hidup dan tinggal di seputar sini maka bukanlah sesuatu yang mengherankan apabila dia memiliki informasi yang berhubungan dengan kegiatan ladang antena yang berada di permukaan “sarang”. Siapa tau saja akan ada juga penjelasan tentang sinyal-sinyal aneh beberapa hari lalu yang terpancar dari ladang antena tersebut dan terekam dalam komputernya.
 Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru
 Lirik Kuno Navajo (9) : Proyek Sinar Biru

“Ya… mari kita dengarkan penelepon pertama”, kata penyiar yang mendampingi Nakai.
“Nakai, kamu sudah dengar tentang seorang peternak di Oregon yang menemukan sapi-sapinya telah terpotong bagian perutnya dengan potongan yang sangat rapi dan hilang semua organ dalamnya?”, tanya penelepon pertama.
“Ya… itu sudah sering terjadi. Organ-organ itu diambil untuk menggandakan mahluk-mahluk jahat itu.”, jawab Nakai yakin.
“Saya tidak yakin tentang itu Nakai tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan. Ketika peternak itu mendekati sapi-sapinya yang telah mati. polisi malah menembaknya. Mereka menuduhnya menghalangi pemeriksaan dan mengancam petugas dengan senjata. Padahal istrinya jelas sekali bersaksi bahwa suaminya pada saat itu tidak membawa senjata sedangkan senjata yang ditemukan di dekat mayat suaminya bukanlah senjatanya. Apa lagi ini? Kenapa bisa seperti itu?”, penelepon pertama tersebut menjelaskan dan bertanya dengan panjang lebar.
“Jelas sekali. Itu sebuah konspirasi. Seperti yang selalu saya katakan, pemerintah dan aparatnya telah bekerjasama dengan mahluk-mahluk jahat itu.”, Nakai menyimpulkan sendiri.

Demikianlah setiap penelepon mengadukan dan menceritakan semua pendapat mereka tentang berbagai pengalaman aneh baik yang dialami sendiri maupun bukan. Ada yang berbicara tentang piring terbang, mahluk yang tiba-tiba saja muncul dari sebuah portal, pengalaman pindah lokasi setelah hilang kesadaran dan berbagai pengalaman aneh lainnya. Tidak ada yang berbicara tentang ladang antena apapun dengan sinyal-sinyal aneh yang dihasilkannya. Sampai akhirnya pertanyaan dari penelepon yang kesekian menarik perhatian Peter.

“Nakai... apakah kamu melihat bayangan malaikat yang muncul di langit beberapa hari lalu?”, tanya penelepon itu.
“Ya saya melihatnya. Saya sedang tidur sampai kemudian suara-suara gaduh membangunkan saya. Orang-orang berkata, ‘Nakai…nakai… kamu harus melihat itu’.”
“Menurutmu apakah itu? Apakah itu malaikat sungguhan? Mungkinkan malaikat itu yang akan menolong kita dari mahluk-mahluk jahat itu?”
“Sama sekali tidak. Itupun tipuan mereka. Itu adalah bagian dari proyek sinar biru. Sebuah proyek yang memproyeksikan seolah sesuatu yang agung datang dari langit. Mereka berharap kita percaya dan tertipu. Sama sekali tidak… jangan percaya itu.”

Sebuah “malaikat”? Itukah proyeksi obyek berbentuk “X” atau “Y” yang terlihat saat itu? Peter berpikir sambil terus mendengarkan.

“Bagaimana cara kerjanya? Saya tidak melihat ada lampu sorot dipancarkan”
“Saya juga tidak tahu tapi saya yakin ada hubungannya dengan ladang antena yang ada di Los Alamos sana.”

Jawaban Nakai itu membuat Peter semakin keras berpikir dan bertanya dalam hati. Apakah salah satu kegunaan ladang antena itu memang untuk hal seperti itu? Untuk menipu masyarakat? Setelah masyarakat tertipu dengan obyek palsu yang terlihat di langit lalu apakah yang terjadi selanjutnya? Peter semakin resah membayangkan bahwa dia mungkin telah bekerja untuk sebuah proyek konspirasi yang membahayakan masyarakat maupun dunia.

Beberapa penelepon lagi menanyakan hal-hal yang berbau konspirasi dan Nakai sedapat mungkin berusaha menjawabnya. Tidak seluruh jawabannya masuk akal tapi itu bisa dipahami mengingat hal-hal yang ditanyakanpun banyak yang diluar nalar. Seluruh proses interaksi antara Nakai dan para peneleponnya didengarkan Peter dengan seksama hingga penelepon terakhir selesai. Peter hanya bisa menghela nafas membayangkan “hiruk pikuk” yang terjadi jika semua yang dikatakan para penelepon tersebut benar adanya. Yang dia butuhkan sekarang adalah berbaring sejenak dan memikirkan semua kemungkinan yang ada, termasuk kemungkinan untuk melarikan diri.

Dan ketika Peter bersiap untuk meninggalkan ruangan itu dan baru saja akan mematikan TV, Peter tersentak dengan kata-kata penutup dari Nakai si Indian tua pembawa acara itu. Nakai mengatakan sesuatu dalam bahasa Navajo dan pesannya dengan sangat jelas dimengerti oleh Peter. Kalimat penutup dari Nakai tersebut adalah

“Untukmu Piataru, larilah. Kamu tidak aman!”

APA???


Piataru adalah jelas sebutan untuk seseorang bernama Peter dalam aksen Navajo. Seorang “Peter” yang harus lari dari situasinya karena tidak aman. Kepada siapakah pesan Nakai ini ditujukan? Jika memang untuk dirinya, bagaimana mungkin si Indian tua ini sampai dua kali secara khusus mengirimkan pesan untuknya? Ini jelas bukan lagi kebetulan karena ini yang sudah kedua kalinya. Siapa sebenarnya Nakai ini dan apakah dia memang mengenalku, Dan darimana dia tahu kalau aku mendengarkan? Peter sibuk menduga-duga di tengah keterkejutannya.

*******

Seperti biasa, “dongeng”nya bersambung lagi
By Patsus Namraenu Biro Jabodetabek
Gambar by Google dan Patsus Dede Sherman

 http://patriotgaruda.com/2016/02/21/lirik-kuno-navajo-9-proyek-sinar-biru/

Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian

| comments

diambil dari patriotgaruda.com

Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian
================================================

“Huuuuuffffhhhh……”

Peter membungkukkan badannya dan menyandarkan dahinya ke meja kerjanya sedikit di depan keyboardnya. Sudah 2 hari dia berusaha menemukan sesuatu yang berarti dari sinyal-sinyal yang direkamnya dari dekoder di ruang lab riset quantum. Hari itu pun dia masih terus berusaha keras meski jam sudah menunjukkan pukul 1.30 pagi. Namun semua upaya kerasnya itu terbentur pada keterbatasan sarana. Dekoder tersebut ternyata hanya mampu menerima sinyal sampai batasan frekuensi tertentu. Di samping itu kemampuan algoritma software yang digunakannya juga memiliki keterbatasan pendekatan matematis.
Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian
Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian

“Ah… jika saja aku bisa mengontak Martin….”

Peter teringat akan keponakannya Martin, putra dari kakaknya Alexander, yang memiliki kemampuan pemrograman yang luar biasa. Mereka pernah bekerja bersama-sama dalam suatu proyek penelitian.
Peter untuk menyelesaikan doktoral mikroseismik-nya sedangkan Martin untuk menyelesaikan pemrograman enkripsi sinyal bagi program sarjananya. Di situlah Peter bisa melihat kecemerlangan keponakannya itu.
Selain jago dalam pendekatan matematis dan pemrograman, Martin juga memiliki kepiawaian dalam meretas sistem, baik sistem berbasis jaringan maupun sistem berbentuk file tunggal. Sebagai kenang-kenangan pekerjaan mereka bersama, Peter mengoleksi beberapa skrip “berbahaya” milik Martin yang dapat digunakan untuk meretas sistem.


Sudah 16 bulan Peter tidak bisa mengontak Martin dan siapapun di dunia luar. Semua komunikasi keluar dilarang demi menjaga kerahasiaan proyek yang sedang dikerjakan. Di dalam situ hanya tersedia jaringan intranet dengan extranet yang terbatas. Akses internet keluar dibatasi hanya pada daftar tautan tertentu. Bahkan email dan pesan pribadi pun tidak bisa dilakukan. Peter hanya diijinkan mengirimkan dan menerima rekaman video dari dan ke istrinya sebulan sekali. Itupun rekaman tersebut dibatasi hanya maksimal 10 menit dan Peter tidak diijinkan untuk menceritakan pekerjaannya. Kalaupun dia memaksakan untuk menceritakan tentang pekerjaannya maka dipastikan tim penyaring akan mengedit dan membuang bagian itu sebelum dikirimkan ke Shannon istrinya.

Pekerjaannya memang penuh kerahasiaan karena berhubungan dengan satelit dengan kemampuan khusus. Divisinya “Terra Quark” bertugas menciptakan alat yang bisa memperkirakan kapan terjadinya gempa berdasarkan emisi radioaktif maupun elemen lain yang dilepaskan ke udara menjelang terjadinya gempa. Namun yang tidak dia pahami adalah jika hasil risetnya digabung dengan riset tim Quantum maka satelit tersebut tidak hanya bersifat pasif namun juga bersifat “aktif”. Satelit tersebut dapat melakukan “pemanasan” pada zona gempa sehingga memudahkan terjadinya gempa. Disinilah letak kebingungan dan kekhawatiran Peter. Untuk apa menciptakan sebuah alat yang bisa memancing gempa jika tidak akan dijadikan senjata?

Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian
Lirik Kuno Navajo (8) : Sebuah ide yang brillian

Lalu apakah pemancar yang ada di ladang antena diatas bertugas untuk memancarkan gelombang “pemancing” sehingga terjadi gempa? Kemana? Tidak mungkin disini karena Peter tahu bahwa di daerah tempat lab tersebut berada bukanlah zona gempa. Lalu untuk apa memancarkan gelombang seperti itu? Dan jika yang dipancarkan adalah bukan gelombang seperti dugaannya maka apakah yang dipancarkan 2 hari lalu itu? Untuk apa dan kemana? Lalu apakah sebenarnya bentuk “X” atau “Y” yang samar tertangkap oleh antena yang kemudian dikirimkan ke dekoder dan terlihat di siaran TV di ruang lab quantum?

Begitu banyak pertanyaan memenuhi benaknya sampai sebuah suara mengagetkannya.

“Masih terjaga ya?”

Peter menoleh. Di ujung dekat koridor, rekan kerjanya Tawfeeq Al-Fawwaz tersenyum kepadanya sambil berjalan keluar dari arah dapur dengan membawa segelas kopi. Ahli graviti-magnetik berbadan tambun asal Mesir itu memang sangat suka kopi. Sehari-harinya dia mungkin lebih banyak minum kopi daripada air putih. Peter pernah mengingatkan tentang bahayanya kebiasaan itu namun dijawab dengan santai. “Kopi membuatku tetap terjaga sehingga aku bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Tapi, baiklah, aku akan mempertimbangkan untuk berhenti minum kopi jika bisa keluar dari tempat ini dengan selamat.” Ketika Peter menanyakan maksud kata-katanya yang terakhir, Tawfeeq bilang dia hanya bergurau dan itu adalah sebuah hiperbolisme. Waktu itu Peter pun menganggap bahwa itu hanya candaan namun kini Peter menduga bahwa sebenarnya ada sesuatu yang serius di dalam kata-kata rekan kerjanya itu dan sepertinya dia tahu suatu rahasia namun tidak berani dikatakannya.

“Yah… begitulah. Kopi tengah malam?”, kata Peter.
Tawfeeq hanya tersenyum, “Keberatan saya bergabung?”
“Tidak sama sekali. Silahkan.”

Sebelum Tawfeeq mendekatinya, Peter menutup layar-layar program yang berhubungan dengan pengolahan sinyal-sinyal “misterius” dari dekoder yang sedang dikerjakannya. Setelah berada di dekat Peter, Tawfeeq menarik kursi yang berdekatan dengan workstation Peter dan duduk dengan santai.

“Mengejar deadline ya?”
“Yah… begitulah.”, Peter tidak ingin menceritakan yang sebenarnya. Dia teringat janjinya dengan Boghdan.
“Saya harap semuanya lancar.”
“Well… kamu tahulah bagaimana pekerjaan. Kadang lancar, kadang ada hambatan. Bagaimana denganmu? Mengejar deadline juga?” Peter berusaha mengalihkan fokus pembicaraan.
“Ah.. tidak. Aku baru saja sembahyang. Setelah kopi ini habis, aku akan mencoba kembali tidur.”
“Setelah meminum segelas kopi yang penuh begitu kamu berharap akan tidur nyenyak setelahnya?”, Peter merasa geli dengan ide itu.
“Hahaha… jika tidak bisa, aku akan memasang headset dan memutar lagu-lagu kesukaanku hingga jatuh tertidur kembali.”
“Ya. Ide itu lebih baik sepertinya. Siapa penyanyi kesukaanmu?”
“Kamu mungkin tidak mengenalnya. Dia Amr Diab, seorang penyanyi Mesir terkenal. Ah… andai saja ada caranya aku bisa mendengarkan radio-radio Mesir, hari-hari disini tidak akan terlalu membosankan. Juga dapat mengobati kerinduanku akan kota Alexandria.”

Peter terkesiap. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di kepalanya. Ya… benar! Mungkin itu solusinya! Aku harus lakukan itu sekarang juga.

Peter segera berdiri dan berpamitan kepada Tawfeeq.

“Terimakasih kawan. Saya harus ke ruang lab quantum sebentar.”
“Apa??? Di jam begini malam? Bukankah mereka semua sudah tidur? Atau ada pertandingan bola yang seru untuk ditonton disana?”. Tawfeeq ikut berdiri. Kebingungan.
“Tidak. Bukan karena itu. Terimakasih telah menemani.”

Peter berjalan bergegas menuju pintu keluar ruangan workstation.

“Apakah ada sesuatu yang salah yang kuucapkan?”

Pada saat itu Peter sudah hampir keluar dari ruangan kerja area workstation mereka.

“Tidak. Sama sekali tidak. Kamu justru telah memberi saya sebuah ide brillian…”
“Ide brillian?”, Tawfeeq semakin bingung. Akhirnya dia hanya mengangkat bahu, duduk kembali dan menghabiskan kopinya sendirian.

Peter sudah meninggalkan ruangan.

*********************

Ternyata ide yang diberikan oleh Tawfeeq benar-benar berguna. Peter pun mampu menemukan jawaban dari misteri sinyal-sinyal aneh yang direkamnya. Peter bahkan menemukan lebih dari sekedar solusi yang dicarinya.
Ide apakah itu dan untuk apakah sebenarnya sinyal-sinyal tersebut dipancarkan?

Sabar ya… jawabannya ada di edisi berikutnya dari serial “dongeng” ini.
Salaam…

By patsus Namraenu Biro Jabodetabek
Gambar ilustrasi by Google dan Patsus Citox

 http://patriotgaruda.com/2016/01/31/lirik-kuno-navajo-8-sebuah-ide-yang-brillian/


Lirik Kuno Navajo (7) : Pola-pola yang aneh

Friday, April 1, 2016 | comments

cerita ini diambil dari http://patriotgaruda.com/2016/01/07/lirik-kuno-navajo-7-pola-pola-yang-aneh/

“Oke… jadi bagaimana cara menggunakan ini?”
“Mudah saja… ini seperti dekoder di ruangan lain. Disini panel angka untuk memasukkan base frekuensinya dan pilih besaran frekuensinya. Lalu ini untuk melakukan pencarian maju atau mundur.”

Saat itu Peter meminta Boghdan untuk mengajarinya cara mengoperasikan alat mirip dekoder yang digunakan tim Riset Quantum mengkonversi sinyal yang didapatkan dari ladang antena dipermukaan untuk menjadi tampilan visual di TV.

“Lalu bagaimana cara mengenali pola-pola gelombang yang rumit, melakukan lompatan antar frekuensi dan menyaring beberapa sinyal?”
“Untuk apa kamu ingin mengetahui itu? Kamu ingin membajak sebuah satelit? Hahaha….”
“Hahaha… aku hanya penasaran. Itu saja.”
“Atau kamu mencari cara untuk melarikan diri dari tempat ini? Hahaha… sejak kamu menonton Indian gila itu di TV, engkau seperti sering resah kawan. Hahaha…”
“Ayolah… jangan konyol. Aku hanya penasaran Boggy. Matt bilang dengan alat ini kita bisa melakukan hal-hal yang aku tanyakan tadi.”
“Ya memang… tapi tidak dengan alat ini saja. Kita harus melakukannya dengan komputer dan alat ini sebagai interface-nya. ”

“Nah… itu baru masuk akal. Jadi.. apa yang di dapatkan Matt? Selain siaran TV tentunya…”
“Yah… tidak banyak yang menarik. Mungkin jika dia mau meretas sinyal yang diterima, akan ada sesuatu yang bisa didapatkan tapi….. untuk apa?”

Peter mengangguk paham. Hari itu dia memang sedang tidak begitu sibuk dan dia butuh sesuatu untuk hiburan. Dia merasa bosan dengan pilihan saluran tontonan yang tersaji di ruangan lab-nya sendiri. Rasa ingin tahunya yang besar juga membuatnya penasaran dengan kemampuan alat itu seperti yang dikatakan oleh kedua temannya tersebut sekitar 2 bulan sebelumnya.
Lirik Kuno Navajo (7) : Pola-pola yang aneh
Lirik Kuno Navajo (7) : Pola-pola yang aneh

“Hey…”, Boghdan meneruskan pembicaraan, “sebenarnya alat ini biasa saja. Seorang lulusan sarjana elektronika pun bisa membuatnya.. tapi……..”

Kata-katanya terputus sejenak dan sesaat dia memperhatikan keadaan di sekitarnya. Sepertinya dia ingin meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka.

“Ladang antena di atas…”, lanjut Boghdan lagi. Kali ini suaranya sangat pelan dan cenderung hanya berupa bisikan lirih.
“Ya?”
“Di ladang antena itu sepertinya banyak pemancar berkekuatan tinggi.”
“Lalu kenapa? Sepertinya itu wajar saja bukan?” , kata Pete bingung.
“Pemancar-pemancar ini berbeda. Mereka memancarkan sesuatu yang aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Sesaat sebelum sesuatu ini dipancarkan, dekoder ini tidak menangkap frekuensi apapun. Seolah seperti hilang daya. ”

Boghdan berhenti berbicara ketika seseorang melintas di luar laboratorium.
“Lalu?”
“Lalu beberapa detik kemudian, berbagai pola-pola noise tampak di layar TV. Anehnya, pada kali terakhir kita mendapatinya, ada sedikit samar gambaran visual yang terlihat di televisi ini ditengah berbagai noise.”
“Gambaran apa?”

Belum sempat Boghdan menjawabnya, pintu ke arah lab utama terbuka. Keduanya menoleh ke arah pintu itu.

Seseorang dari balik pintu yang merupakan rekan kerja Boghdan muncul, “Hey Boggy… disitu kau rupanya! Kemarilah… kita butuh bantuanmu.”

Boghdan pun beranjak sambil berkata kepada Peter, “Oke…. kutinggalkan dirimu. Maaf kami tidak bisa selalu menemanimu. Semoga tontonanmu menyenangkan.”

Ketika rekan Boghdan telah kembali masuk, Peter menghentikan Boghdan sebentar dan bertanya, “Apa yang terlihat di televisi Boghdan?”

Boghdan menghela nafas. Sebelum berbalik, dia sempat membisikkan sesuatu. “Obyek yang mirip pesawat antariksa”.

Sambil meletakkan jari telunjuk diatas bibirnya memberikan isyarat bahwa apa yang mereka bicarakan barusan tidak untuk diceritakan kepada siapapun, Boghdan meninggalkan Peter yang termangu di depan TV dalam area depan laboratorium tersebut.

*****

arman28

Di sela waktu kesibukannya, Peter pun memanfaatkan TV di area depan lab Riset Quantum untuk mencari tontonan sebagai hiburan. Namun sebenarnya ada alasan lain dibalik itu. Peter tertarik atau lebih tepatnya penasaran dengan apa yang diceritakan oleh Boghdan. Sejak melihat sang Indian tua Nakai di televisi, entah kenapa, Peter merasa ada banyak yang salah dengan laboratorium tempat mereka bekerja. Itulah sebabnya Peter merasa tertantang untuk mengetahui lebih banyak tentang apapun yang dirasakan ganjil dan menyimpan misteri dalam tempat tersebut.

Karena itu dalam beberapa kesempatan, Peter pun menyambungkan alat dekoder yang terhubung ke ladang antena di ruang TV dengan komputer laptopnya dan melakukan analisa gelombang yang masuk. Sebagai seorang ahli geofisika, Peter sudah sangat terbiasa dengan pemrosesan sinyal dan gelombang. Namun tanpa pengetahuan yang memadai tentang parameter sinyal-sinyal itu, Peter tidak dapat langsung mengerti maksud dari sinyal-sinyal tersebut. Karena itu dia hanya merekam sinyal-sinyal yang masuk ke dalam komputernya untuk dianalisa nanti. Namun hasil analisa Peter tidak pernah menemukan sesuatu yang berarti. Tanpa parameter analisa yang jelas maka hasil pengolahan sinyal yang dilakukannya juga tidak pernah memberikan hasil yang pasti.

Setelah beberapa waktu terus merekam dan menganalisa namun tidak mendapatkan hasil yang berarti, Peter sebenarnya sudah hampir memutuskan untuk menyerah sampai akhirnya terjadilah kejadian “tersebut”.

*****

arman29

Kurang lebih sebulan setelah pembicaraan rahasianya dengan Boghdan, Peter mendapatkan apa yang selama ini dicarinya. Pada saat sedang asyik menonton acara musik, tiba-tiba TV yang ditontonnya kehilangan gambar dan hanya menampilkan noise. Mulanya Peter mengira ada kabel yang terlepas namun baru saja akan memeriksanya, di layar TV terlihat beberapa noise yang polanya lebih teratur. Insting Peter bekerja dan dia segera menghubungkan alat dekoder tersebut dengan komputer laptop yang digunakannya bekerja sambil menonton.

Sambil merekam pola-pola sinyal tersebut ke dalam komputernya, Peter terus memperhatikan dengan seksama layar TV untuk melihat pola-pola noise yang muncul. Dan tidak berapa lama kemudian, Peter seperti melihat garis pola yang membentuk sebuah obyek solid terpampang dengan samar namun stabil diantara noise-noise yang terlihat. Peter berusaha memperkirakan bentuk yang terlihat seperti huruf Y atau X tersebut. Setelah bersusah payah mengamati obyek yang terlihat tersebut, Peter tetap tidak berhasil menyimpulkan apa obyek sebenarnya dari bentuk yang terlihat itu.

Kurang dari 5 menit, pola-pola noise yang teratur itupun menghilang dari layar TV dan hanya tersisa tampilan noise yang umum terlihat ketika sebuah TV belum mendapatkan sinyal pemancar. Sejurus kemudian, acara musik yang sedang ditonton Peter sebelumnya telah kembali terlihat di layar TV. Namun Peter sudah tidak tertarik untuk menontonnya. Setelah mencabut kabel yang menghubungkan ke laptopnya, Peter pun kembali ke ruangannya. Disana dia akan menganalisa sinyal-sinyal noise aneh yang baru saja direkamnya.

*****

Berhasilkah Peter menentukan obyek yang dilihatnya? Lalu apa sebenarnya fungsi ladang antena diatas laboratorium bawah tanah tempat mereka bekerja?
Jangan kemana-mana ya… nantikan kelanjutan “dongeng” ini.

By Patsus Namraenu biro Jabodetabek
Gambar by Google dan patsus Citox

sumber: http://patriotgaruda.com/2016/01/07/lirik-kuno-navajo-7-pola-pola-yang-aneh/
 
Copyright © 2013. IPA SMP
Template Created by IPA SMP