Pembagian Zona Sistem Pencernaan dan Kelenjar Pencernaan

Friday, July 1, 2016 | comments

Saluran pencernaan (traktus digestivus)

Saluran pencernaan dapat dibagi menjadi empat bagian (zona) yang secara umum menggambarkkan tahap-tahap makanan itu dicerna. Zona-zona tersebut adalah zona ingresif, progresif, degresif dan zona egresif.

a. Zona ingresif.

Zona ingresif adalah bagian awal tempat makanan diambil dan dimasukkan. Di dalam zona ini pada beberapa hewan sudah dimulai proses pemecahan makanan baik secara mekanik maupun kimiawi menjadi fragmen-fragmen yang lebih lembut yang memudahkan ditelan, disalurkan atau dicerna pada zona berikutnya. Zona ini meliputi celah mulut (rima onis) bibir (labia) rongga mulut cavum onis gigi (dentes) dan lidah (lingua). Labia menupakan dua lipatan berotot yang membatasi rima oris dan dapat digerakkan secara aktif untuk memegang makan.


Sedangkan mulut dapat diantikan sebagai celah (rima oris), pintu masuknya makanan, dan rongga (cavum oris) yang terletak di belakang deretan dentes. Pada cavum oris ini dapat ditemukan sejumlah kelenjar mulut: glandula lingualis, palatina, nasalis, maxillaris, sublingualis dan glandula submaxillaris. Di sepanjang permukaan dalam pipi dan permukaan luar deretan gigi dan gusi terdapat rongga yang disebut cavitas buccalis (rongga pipi).

Pada hewan seperti kera dan hamster, rongga pipi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai kantung penyimpan. Pada tetrapoda dalam rongga mulut terdapat lidah yang berupa bangunan berotot tebal, bagian pangkal melekat pada dasar mulut dan ujungnya umumnya dapa digerakkan untuk menangkap mangsa (misalnya pada katak dan kodok), membantu memindahkan makanan, alat pengecap dan tempat dihasilkannya enzim.-enzim.

Makanan dalam rongga mulut akan dicerna secara mekanis oleh gigi baik dengan cara dipotong, diparut, digerus dan lain sebagainya. Namun demikian gigi juga berfungsi lain seperti untuk memegang mangsa, alat pertahanan dan membantu lokomosi.

a. Zona progresif

Pada zona ini makanan didorong lebih jauh dalam saluran pencernaan dan mengalami pemecahan lebih lanjut. Organ-organ yang bertanggung jawab pada zona ini adalah pharyx, esophagus dan ventriculus. Pharynx adalah suatu celah yang dibatasi oleh cavum oris dan esophagus. Dalam pharynx terdapat beberapa lubang yaitu glottis, lubang yang menuju tuba eustachii dan lubang yang menuju esophagus.

Esophagus merupakan saluran yang panjang atau bahkan sangat pendek, tergantung dari panjangnya leher hewan, menuju ke kantung cerna, ventriculus. Pada beberapa hewan seperti unggas, esophagus membentuk pelebaran tempat penyimpan makanan sementara, ingluvies. Sedangkan pada hewan yang makanannya kasar, lapisan mucosa esophagus kadang-kadang mengalami kornifikasi. Ventriculus adalah suatu saluran yang menggelembung seperti kantong, berotot tebal dan menghasilkan kelenjar makanan.

Bagian ventriculus yang berdekatan dengan esophagus disebut cardia, dengan sel-sel columner penghasil mucus. Bagian tengah, disebut fundus, berdinding tebal dan terdapat kelenjar gastrica yang menghasilkan enzim, HCL dan mucus. Sedangkan bagian posterior yang berhubungan dengan intestinum disebut pilorus dengan kelenjar tubuler yang menghasilkan mucus.

b. Zona degresif

Pada zona ini makanan yang telah mengalami modifikasi kemudian dicampur dengan bilus, cairan pankreas dan sekresi sejumlah kelenjar lainnya untuk kemudian diserap dinding-dinding intestinum. Untuk menambah permukaan absorbsi, beberapa hewan melakukan berbagai modifikasi permukaan serap.

Contohnya membentuk typtilosol (lipatan longitudinal ke lumen intestinum) berbentuk spiral yang disebut valvula spiralis pada ikan hiu, ceca pylorica berupa tonjolan-tonjolan kecil yang terdapat antara ventrikulus dan intestinum pada ikan Acipencer, ceca coli atau coecum coli atau coecum berupa tonjolan memanjang atau membesar yang terletak antara intestinum tenue dan intestinum crassum.

Pada herbivor modifikasi permukaan absorbsi umumnya dilakukan dengan cara rnemanjangkan intestinum dibandingkan dengan karnivor.

c. Zona egresif

Pada zona ini organ yang berperan penting adalah intestinum crassum yang berfungsi untuk absorbsi air dan pembentukan faeces dalam bentuk bolus-bolus, disimpan sementara sebelum kemudian dikeluarkan lewat anus (mammal). Pada umumnya ujung posterior intestinum crassum disebut cloaca.
 -----------------------------------

Glandula Digestoria (Kelenjar Pencernaan)

Kelenjar pencernaan utama yang terdapat dalam saluran pencernaan pada vertebrata adalah hepar (plus vesica fellea) dan pancreas

a. Hepar dan Vesica fellea

Hepar adalah kelenjar pencernaan paling besar. Hepar berkembang dari bagian median intestinum yang kemudian membentuk 1 atau 2 diverticula hepatica. Diverticula posterior membentuk vesica fellea dan diverticula anterior meluas dan bercabang-cabang membentuk hepar.

Hepar menghasilkan bilus, yang dicurahkan ke duodenum apabila makanan masuk ke duodenum. Kelebihan produksi bilus akan disimpan sementara dalam vesica fellea.

Pembagian Zona Sistem Pencernaan dan Kelenjar Pencernaan
Pembagian Zona Sistem Pencernaan dan Kelenjar Pencernaan

b. Pancreas

Pancreas berasal juga dari diverticula intestinum bagian dorsal dari ventral. Pertumbuhan pancreas dorsal lebih cepat dibandingkan pancreas ventral. Pertumbuhan yang tidak sama ini menyebabkan terbawanya pancreas ventral ke mesenterium dorsalis mendekati tangkai pancreas dorsal, sehingga kedua primordial tadi bersatu.

Torsi duodenum menyebabkan ductus ventralis akan menampung ductus dorsalis dan bersama-sama membentuk ductus pancreaticus. Letak biasanya terletak di antara parsascendens dan descendens duodeni. Pancreas adalah organ yang berfungsi ganda, yaitu sebagai kelenjar eksokrin (kelenjar pencernaan) yang mencurahkan secret (enzim amylase, trypsin damn lipase) menuju intestinum dan kelenjar endokrin (bagian insula Langerhansi) yang mencurahkan hormon ke darah.

c. Kelenjar saliva (ludah)

Kelenjar saliva manusia terdiri atas 3 pasang:

  1. Kelenjar parotid, terletak di depan telinga, muaranya pada gusi sebelah atas.
  2. Kelenjar mandibularis (submaksilaris) terletak di dekat mandibula (rahang bawah), muaranya di bawah lidah.
  3. Kelenjar sublingualis, terletak di dasar mulut, muaranya di bawah lidah. Pada kelenjar saliva terdapat 2 jenis sel yaitu:
    1.  Sel serosa, mensekresikan cairan serous (encer) yang mengandung enzim ptyalin (amilase). Amilase berperan mengubah amilum menjadi sakarida sederhana.
    2. Sel mukosa, mensekresikan lendir.
kelenjar saliva
kelenjar saliva

Campbell, N.A., Reece, J. B., Mitchell, L. G. 2002. Biologi , edisi Kelima, Jilid 3,
Jakarta: Erlangga.

Djuhanda, Tatang.1984.Analisa Struktur Vertebrata Jilid 2. Bandung : Armico.

Handari Suntoro, Susilo dkk. 1993. Materi pokok anatomi dan Fisiologi Hewan .Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.

Nugroho, G. 2014. Sistem Pencernaan Hewan. http://staff.unila.ac.id/. Diakses pada 25 Maret 2015. 15.50 WIB.

Nurcahyo, Heru. 2005. Sistem Pencernaan Makanan (digesti). http:// staff.uny.ac.id/. Diakses pada 25 Maret 2015 Pukul 16.00 WIB

Tim Dosen UNNES. Struktur Tubuh Hewan. Semarang: UNNES Press.

Yuwono, Edi. 2001. Fisiologi Hewan Air. Jakarta: Sagung Seto

Ville. 1988. Zoology umum Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Saluran Digesti Pada Sistem Pencernaan Manusia

| comments

Pada umumnya saluran digesti tersusun atas:

1. Mulut/ oral cavity

Di rongga mulut terdapat gigi (gerigi) yang berfungsi untuk menyobek, mengunyah zat-zat makanan secara mekanis sehingga menjadi zat-zat yang lebih kecil dan memudahkan bekerjanya enzim pencernaan. Di rongga mulut terdapat bibir, lidah dan palatum (langit-langit) untuk membantu penguyahan zat makanan, dan penelanan zat makanan. Di rongga mulut terdapat muara kelenjar air liur (saliva) yang mengandung enzim ptyalin (amilase)

2. Faring (Pharynx)

Merupakan persilangan antara saluran makanan dan saluran udara. Epiglotis berperan sebagai pengatur (klep) kedua saluran tersebut. Pada saat menelan makanan saluran udara ditutup oleh epiglotis dan sebaliknya jika sedang menghirup nafas.

3. Esofagus (kerongkongan)

Sebagai saluran panjang berotot (muskuler) yang menghubungkan rongga mulut dengan lambung. Pada batas antara esophagus dengan lambung terdapat sphincter esophagii yang berfungsi mengatur agar makanan yang sudah masuk ke dalam lambung tidak kembali ke esophagus.


4. Gastrium (lambung)

Di lambung, makanan ditampung, disimpan, dan dicampur dengan asam lambung, lendir dan pepsin. Mukosa lambung banyak mengandung kelenjar 3 pencernaan. Kelenjar pada bagian pilorika dan kardiaka menghasilkan lendir. Kelenjar pada fundus terdapat sel parietal (oxyntic cell) menghasilkan HCl, dan chief cell menghasilkan pepsinogen.

Proses digesti di lambung meliputi:

  1. Pencernaan pada lambung sebatas pada protein, sangat sedikit lemak, dan karbohidrat. Absorpsi zat-zat tertentu seperti; alkohol, obat-obatan
  2. Makanan setelah melewati lambung menjadi dalam bentuk bubur makanan (chyme). Dengan mekanisme dorongan dari otot lambung chyme menuju ke usus dua belas jari (duodenum).

5. Intestinum tenue (usus halus)

Usus halus dibedakan menjadi 3 bagian: duodenum, jejunum, dan ileum.

Duodenum

Pada duodenum terdapat muara dari duktus koledokus dan duktus pankreatikus. Cairan empedu dari kantung empedu dikeluarkan lewat duktus koledokus. Cairan pankreas lewat duktus pankreatikus. Cairan pancreas mengandung enzim lipase, amylase, trypsinogen dan chemotrypsinogen. Lipase untuk memecah lemak (setelah diemulsifikasikan oleh empedu) menjadi asam lemak dan gliserol.
 Amylase untuk memecah amilum menjadi sakarida sederhana.

Saluran Digesti Pada Sistem Pencernaan Manusia
Saluran Digesti Pada Sistem Pencernaan Manusia

Jejunum

Jejunum merupakan tempat absorpsi zat-zat makanan. Proses penyerapan (absorpsi) zat-zat makanan meliputi; difusi, osmosis, dan transpor aktif.
  1. Monosakrida dan asam amino melalui mekanisme difusi fasilitasi.
  2. Asam lemak melalui mekanisme difusi biasa.
  3. Vitamin melalui mekanisme difusi biasa.
  4. Air melalui mekanisme difusi dan osmose.
  5. Elektrolit dan mineral melalui mekanisme difusi, dan transport aktif.

Ileum

Absorpsi melalui villi usus.

6. Intestinum crassum (usus besar)

Usus besar terdiri atas caecum dan colon. Caecum berupa kantung. 4 kantung dengan pita (taenia) dan haustra. Colon dapat dibedakan menjadi colon ascenden (naik), transversal (mendatar), descenden (turun). Usus besar merupakan tempat untuk absorpsi air dan mineral yang tidak terserap di usus halus. Pencernaan secara mikrobiotis oleh bakteri komensal (E. coli), menghasilkan gas, dan sintesis vit. K.

7. Rektum

Rektum merupakan kantung yang berfungsi menampung feses. Setelah penuh terjadi perangsangan karena ekstensi (peregangan) dinding rectum sehingga timbul keinginan untuk berak (defikasi).

8. Anus

Anus merupakan katup muskuler (spinchter ani) berfungsi mengatur pengeluaran tinja. Kelainan saluran pencernaan:
  1. Diare, karena adanya rangsangan yang berlebihan sehingga motilitas usus meningkat.
  2. Konstipasi, karrena defekasi yang tidak teratur dan sulit.

Fungsi dan Proses Ontogeni Sistem Pencernaan Pada Manusia

| comments

Sistem pencernaan secara umum dapat digambarkan sebagai suatu struktur memanjang, berkelok-kelok yang diawali oleh suatu lubang, disebut mulut dimana makanan mulai dimasukkan dan lubang akhir disebut anus, tempat sisa yang tidak tercerna itu dibuang.

Fungsi umum sistem pencernaan yaitu:

  1. Memasukkan makanan kedalam saluran pencernaan
  2. Menyimpan makanan untuk sementara
  3. Mencerna secara fisik
  4. Mencerna secara kimiawi
  5. Mengabsorbsi hasil pencernaan
  6. Menyimpan sementara makanan yang telah tercerna, untuk kemudian mengeluarkannya.

Tahap-tahap pencernaan makanan secara fisiologis yaitu:

  1. Pengambilan makanan (ingesti)
  2. Pencernaan (digesti)
  3. Penyerapan (absorbsi)
  4.  Pembuangan sisa makanan (defekasi)
Makanan yang dimasukkan ke dalam mulut dengan bantuan gigi dan rahang, lidah, kaki depan, bibir, paruh, serta pharink pengisap. Organ pokok yang berfungsi menyimpan makanan untuk sementara adalah ventriculus, ingluvies, dan kantong pipi.

Pemecahan makanan melalui fisik dilakukan dengan cara:

  1. Mengunyah, memarut, atau menggiling makanan oleh gigi, ventriculus.
  2. Mencampur makanan oleh gerakan peristaltik, antiperistaltik, segmentasi ada intervenium dan ventriculus.
  3. Melembabkan, melunakkan, dan melarutkan makanan dengan bantuan cairan mulut, lambung, intestinum.
  4. Emulsifikasi lemak untuk sekresi hepar.
Pemecahan makanan secara kimia dilakukan terutama didalam ventriculus dan intestinum oleh enzim-enzim yang dihasilkan di dalam kedua organ tersebut dan di dalam pancreas. Untuk absorbsi hasil akhir pencernaan diperlukan permukaan yang luas untuk kontak antara sari makanan dan ephitelium intestinum, tugas ini dilakukan oleh intestinum yang paling panjang, lipatan lipatan di dalam intestinum dan villi intestinumyang panjang, lipatan-lipatan di dalam dinding intestinum di dalam dinding intestinum dan villi intestinum.
Fungsi dan Proses Ontogeni Sistem Pencernaan Pada Manusia
Fungsi dan Proses Ontogeni Sistem Pencernaan Pada Manusia

Ontogeni

Proses ontogeni sistem pencernaan dimulai saat fase gastrulasi, yaitu fase tentuknya 3 lapis benih. Lapisan endoderm, yang terletak paling dalam dan dua san lain, adalah cikal bakal terbentuknya organ-organ pencennaan.

Pada tahap ibrional, endoderm berkembang membentuk suatu tabung panjang yang pada satu ungnya membentuk mulut dan ujung yang lain membentuk anus. Pada Vertebrata, saluran pencernaan ini hanyalah berbentuk tabung lurus, namun segera melakukan lipatan lipatan, putaran kumparan dan pertunasan (diverticulum) untuk membentuk kompleks organ.

Divertikulum yang tumbuh dan saluran antara lain adalah hepar, kantung empedu, dan pankreas, yang terletak pada bagian tengah saluran pencernaan.

Haid Datang 5 Minit Sebelum Maghrib, Bagaimana Puasanya?

Monday, June 27, 2016 | comments


Apabila seorang wanita mulai kedatangan haid lima minit sebelum azan magrib, sama ada puasanya diteruskan atau batal?

Jawapan:

Alhamdulillah, dikutip dari IslamQA. Kalau seorang wanita telah keluar haid sebelum terbenam matahari, walaupun sesaat, maka puasanya batal. Maka dia harus mengqadha untuk hari itu.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam kitab Majalis Syahri Ramadan, hal. 39: "Kalau haidnya telah terlihat dari seorang wanita yang sedang berpuasa meskpun sesaat sebelum magrib, maka puasa hari itu batal dan diharuskan mengqadha."

Dia tidak dibolehkan berpuasa dalam keadaan haid, kalau dia tetap melakukan (puasa), maka puasanya tidak sah.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Al-Mughni, 4/397: "Jika wanita haid berniat puasa dan menahan (dari makan) padahal dia telah mengetahui keharaman akan hal itu, maka dia berdosa dan tidak diterima puasanya."

Wallahu a'lam.

sumber islampos.com

Jenis-Jenis Otot Pada Aves / Sistem Muskularis Pada Aves

| comments

Sistem otot burung berbeda dalam banyak hal dari kebanyakan vertebrata daratan lain. Otot-otot leher dan rahang menunjukkan banyak spesialisasi yang dikaitkan dengan kebiasaan burung makan, fungsi paruh dan mobilitas gerakan leher. Vertebra di bagian tubuh burung banyak yang menyatu, sehingga menyebabkan adanya pengurangan otot di bagian dorsal. Otot perut pada burung juga kurang berkembang, sedangkan otot sayap ekstrinsik terutama otot pektoralis.
Jenis-Jenis Otot Pada Aves
Jenis-Jenis Otot Pada Aves
Aves dapat terbang karena mempunyai sayap dan berat badanya relatif ringan. Otot-otot yang berperan dalam proses terbang, adalah otot-otot pektoral (musculli pectoralis). Otot-otot pektoral terdiri dari 2 otot, yaitu otot pectoral mayor dan otot supracoracoideus atau lebih dikenal dengan otot pectoral minor (Young, 1962).


Kedua ujung otot pektoral terikat di carina atau sterni, sedang ujung lain terikat pada kepala humerus dari sayap di sebelah ventro lateral (Jasin, 1992). Warna otot pektoral ayam berbeda dengan otot pectoral merpati. Otot pektoral ayam berwarna putih, sedangkan otot pektoral merpati berwarna merah. Warna merah merupakan warna mioglobin. Semakin banyak mioglobin pada otot, maka semakin merah warna otot. Fungsi mioglobin sama dengan fungsi hemoglobin pada darah, yaitu sebagai pengikat oksigen (Harvey and Marshall,1983).

Otot pektoralis mayor merupakan otot depressor dan berkaitan dengan gerakan menurunkan sayap saat terbang. Otot pektoralis mayor ini menyusun 1/5 total berat tubuh burung. Otot pektoralis minor berperan dalam mengangkat sayap pada saat burung sedang terbang (Sukiya, 2005).

Otot pektoral menjadi bagian utama untuk gerakan depresor pada sayap. Kontraksi otot-otot pektoralis berperan menarik sayap kebawah dan kedepan yang memberikan daya angkat bagi tubuh burung. Otot suprakorakoid merupakan otot yang berkaitan dengan gerakan sayap keatas, juga terletak pada sternum arah proksimal dari pectoralis mayor dan masuk pada sisi atas humerus.

Otot suprakorakoid digunakan terutama saat akan terbang dan tidak dibutuhkan saat sedang terbang, berperan mengangkat sayap untuk terbang dengan tetap menjaga keseimbangan massa tubuh. Pada burung Merpati pengangkatan sayap terutama disebabkan oleh kontraksi otot suprakorakoideus, yang bermula pada sisi ventral dari sternum.

Tendon otot suprakorakoideus melewati foramen triosseum (sebuah lubang yang dibentuk oleh klavikula, korakoid, dan skapula) untuk menyisip pada humerus dan berperan menarik humerus. Susunan yang luar biasa tersebut memungkinkan otot-otot abduktor dan adduktor dari sayap untuk menyisip pada tulang yang sama. Otot-otot intrinsik pada sayap tereduksi, namun berkembang dengan baik pada kaki. (Faisal, 2012)

Pada burung kolibri , yang memiliki gerak sayap sangat cepat, otot lattisimus dorsi secara proporsional besar. Bagian yang agak erat kaitannya dengan otot deltoid adalah otot propatagialis yang mengirimkan tendo (urat daging) kedalam patagium atau jaringan kulit yang memanjang dari bagian pangkal sayap. Salah satu penegang (tensor) yang dikenal sebagai longus, memanjang dari pangkal humerus sepanjang batas pangkal potagium hingga pergelangan. Tensor yang lain disebut brevis dan memanjang dari humerus hingga bagian dekat lengan depan. Tensor ketiga dikenal sebagai “biseps slips” atau penegang tambahan, memanjang dari otot bisep ke sisi pangkal patagium (Sukiya, 2005).
Jenis-Jenis Otot Pada Aves / Sistem Muskularis Pada Aves
Jenis-Jenis Otot Pada Aves / Sistem Muskularis Pada Aves

Pada otot punggung aves (bagian belakang tubuh), otot ini di bagi menjadi 3 bagian, yakni :

  1. Trapezius (otot kerudung). Terdapat di semua ruas-ruas tulang vertebra. Berpangkal di tulang oksipital. Fungsinya mengangkat dan menarik sendi bahu. Bagian atas menarik scapula ke bagian medial dan yang bawah menarik ke bawah lateral.
  2. Muskulus latisimus dorsi (otot punggung lebar), berpangkal pada ruas tulang vertebra yang kelima dari bawah fasia lumboid, gunanya menutupi ketiak bagian belakang, menengahkan dan memutar tulang pangkal lengan ke dalam.
  3. Muskulus lumboid (otot belah ketupat), berpangkal dari ujung prosesus sifoid, dari tulang leher V, ruas tulang vertebra V, di sini menuju ke pinggir tengah tulang belikat. Gunanya menggerakkan tulang belikat ke atas dan ke tengah.

Sedangkan otot antara ruas vertebra dan kosta yang bekerja menggerakkan kosta atau otot bantu pernapasan. Terdiri dari dua:

  1. Muskulus seratus inferior superior (otot gergaji belakang bawah). Terletak di bawah otot punggung lebar, berpangkal di fasia lumbodorsalis dan menuju ke kosta dari bawah. Gunanya menarik tulang kosta ke bawah pada waktu bernapas.
  2. Muskulus seratus posterior superior, terletak dibawah otot belah ketupat. Gunanya menarik kosta ke atas waktu inspirasi.

Pada aves juga memiliki otot-otot yang menghubungkan otot-otot yang menghubungkan lengan atas dengan tubuh.

tabel jenis otot pada aves

Baca Artikel Terkait Lainnya

  1. Pengertian Otot, Karakteristik, dan Fungsi Otot 
  2. Mengenal Lebih Dekat Jenis-Jenis Otot 
  3. Sistem Muskularis Pada Pisces/Ikan (Otot Polos, Otot Lurik, Otot Jantung) 
  4. Sistem Muskularis Pada Amfibi 
  5. Jenis-Jenis Otot Pada Reptil / Sistem Muskularis Pada Reptil 
  6. Jenis-Jenis Otot Pada Aves / Sistem Muskularis Pada Aves

Jenis-Jenis Otot Pada Reptil / Sistem Muskularis Pada Reptil

| comments

Sistem otot pada reptil mengalami modifikasi untuk mendukung organ-organ vissera, berat badan, dan juga untuk memungkinkan beberapa jenis gerakan. Begitu juga dengan otot-otot respirasi telah teradaptasi untuk kehidupan di darat dan berkembang dengan baik. . Reptilia memiliki sistem otot daging yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan amfibia, karena otot daging harus mendukung tubuh di daratan yang bersifat lebih berat dari pada di dalam air. Selain itu juga untuk gerakan-gerakan yang sifatnya harus cepat (Jasin, 1984: 273).

Kadal dan buaya memiliki kekuatan pada rahang karena didukung oleh otot adduktor pada rahang. Otot ini muncul dari fossa temporal dan menyisip pada sudut kanan untuk membuka rahang. Otot-otot adduktor memanjang dari daerah temporal menuju rahang bawah. Otot adduktor yang utama adalah otot pterigoideus, yang muncul dari tulang-tulang pterigoid pada langit-langit dan menyisip pada bagian posterior rahang bawah.


Otot pterigoideus memberi penampakan yang gemuk pada rahang kadal jantan. Otot depresor mandibula berperan membuka rahang, muncul dari bagian belakang tengkorak dan menyisip pada prosesus retroartikular dari mandibula, otot ini lebih lemah dibandingkan otot-otot lain yang juga berperan menutup rahang (Faisal, 2012).

Otot aksial (otot badan) reptil mulai menunjukkan beberapa spesialisasi seperti yang ditemukan pada mamal. Otot reptil terutama untuk gerakan lateral tubuh dan menggerakkan ruas-ruas tulang belakang. Hal ini bisa diamati terutama pada bangsa ular sebab jaringan otot lengan sudah menghilang. Otot rangka pada kura-kura dan kerabatnya sangat berkurang kecuali pada daerah leher akibat adanya karapaks dan plastron.

Dermal atau otot kulit berkembang baik pada reptil, dan perkembangan yang sangat baik terjadi pada ular. Jaringan otot tungkai pada reptil menunjukkan variasi bergatung pada tipe gerakannya (Sukiya, 2003). Otot epaksial berada pada permukaan dorsal, sementara otot hipaksial berada pada permukaan ventral dan diantara kosta. Otot-otot epaksial kurang mengalami modifikasi jika dibandingkan dengan otot-otot hipaksial, otot-otot epaksial juga kehilangan sifat metamerisme dan tersusun dalam berkas serabut otot.

Disamping fungsinya yang memungkinkan gerakan dari satu sisi ke sisi yang lain pada kolumna vertebra, otot-otot epaksial juga melakukan fungsi yang lain yaitu mendukung, meluruskan atau membengkokkan kolumna vertebra. Tulang rusuk terbentuk dalam miosepta dari otot-otot dinding tubuh sepanjang kolumna vertebra pada sebahagian besar Ular.

Terdapat 20 otot yang berbeda pada masing-masing sisi dari setiap ruas vertebra, otot-otot tersebut menghubungkan antara satu vertebra dengan vertebra yang lain, antara vertebra dengan tulang rusuk, dan antara tulang rusuk dan vertebra dengan kulit, serta membantu membentuk dan mengontrol lekukan tubuh.

Otot-otot pada dinding abdominal tidak mengalami segmentasi dan memiliki tiga lapisan, yaitu eksternal oblique, internal oblique, dan abdominal transversal. Otot-otot hipaksial pada dinding tubuh bagian dada dikenal sebagai otot-otot interkosta, membantu mengangkat dan menurunkan sangkar rusuk dalam proses respirasi. Otot-otot pada tungkai, gelang bahu, dan gelang pinggul terdiri dari otot-otot ekstensor dorsal dan otot-otot fleksor ventral.

Dalam membentuk gerakan kuadrupedal, otot-otot yang menempel pada humerus dan femur mesti merotasi tulang-tulang tersebut ke depan dan ke belakang dengan tetap mempertahankan dalam posisi horizontal pada sudut yang tepat, sehingga tubuh tetap berada diatas substrat. Otot-otot segmental berperan menghubungkan sisik ventral dengan kosta, kontraksi otot-otot segmental juga membantu ular bergerak ke depan.
Sistem Muskular Pada Reptil
Sistem Muskular Pada Reptil
Otot-otot pada lengkung faringeal yang pertama berlanjut untuk menggerakkan rahang dan otot-otot pada lengkung faringeal yang kedua menempel pada rangka hioid. Otot-otot pada sisa lengkung berhubungan dengan faring dan laring. Otot-otot integumen ekstrinsik menyisip pada permukaan bawah dermis dan memungkinkan gerakan bebas bagi kulit (Faisal, 2012).

Fungsi-fungsi otot pada reptile :

  1. Trapezius : untuk memperkuat bahu.
  2. Latissimus dorsi : untuk memperkuat punggung.
  3. Interkosta : untuk mengangkat rusuk.
  4. Rectus abdominis : untuk mengempiskan dinding perut.
  5. Transverses : untuk menekan perut, menegangkan dan menarik dinding perut.
  6. External oblique : rotasi thoraks ke sisi yang berlawanan.
  7. Internal oblique : untuk rotasi thoraks ke sisi yang sama.
  8. Extensors : pergerakan pergelangan tangan.

Baca Artikel Terkait Lainnya

  1. Pengertian Otot, Karakteristik, dan Fungsi Otot 
  2. Mengenal Lebih Dekat Jenis-Jenis Otot 
  3. Sistem Muskularis Pada Pisces/Ikan (Otot Polos, Otot Lurik, Otot Jantung) 
  4. Sistem Muskularis Pada Amfibi 
  5. Jenis-Jenis Otot Pada Reptil / Sistem Muskularis Pada Reptil 
  6. Jenis-Jenis Otot Pada Aves / Sistem Muskularis Pada Aves

Sistem Muskularis Pada Amfibi

| comments

Sistem otot pada amfibi, seperti system – system organ yang lain, sebagai transisi antara ikan dan reptile. Sistem otot pada ikan berpusat pada gerakan tubuh ke lateral, membuka dan menutup mulut serta gill apertura (celah insang) dan gerakan sirip yang relative sederhana. Kebutuhan hidup di darat mengubah susunan ini.
Otot yang menyusun katak tampak ventral
Otot yang menyusun katak tampak ventral
Sistem otot aksial pada amfibi masih metamerik seperti pada ikan tapi tampak tanda – tanda perbedaan. Sekat horizontal membagi otot dorsal dan ventral. Bagian dari system otot epaksial atau dorsal mempengaruhi gerakan kepala. Otot ventral adalah bukti dalam pembagian otot – otot setiap segmen tubuh amfibi.

Selanjutnya otot hipaksial terbagi – bagi dalam lapisan – lapisan, kemudian membentuk otot – otot oblique eksternal, oblique internal dan otot transersus, sedangkan otot dermal sangat kurang. Berbagai macam gerakan pada amfibi yaitu berenang, berjalan, meloncat atau memanjat, melibatkan perkembangan berbagai tipe otot. Beberapa diantaranya terletak dalam tungkai itu dan berupa otot intrinsik.


Sama halnya dengan vertebrata yang lain, tubuh katak mengandung tiga macam otot, yaitu berserat halus (otot polos), otot jantung, dan otot berserat melintang (otot lurik). Perbedaan ini berdasarkan susunan secara mikroskopis dan fisiologis. Otot terdidri atas serat – serat yang satu sama lain digabung oleh jaringan ikat. Kedua ujung biasanya melekat pada tulang yang berlainan. Bagian central yang pasif disebut “origin” sedang bagian distal yang merupakan bagian yang aktif bergerak disebut “insertion”. Banyak otot yang memiliki perluasan dengan jaringan ikat sehingga dapat membungkus sebelah ujung tulang yang disebut “tendon”.

Otot daging yang dipengaruhi oleh saraf (Otot lurik) dibagi atas 3 bentuk struktur umum :

  1. Otot daging yang melebar dan pipih misalnya m. obliqus externus dan transverses yang membentuk dinding abdomen
  2. Otot daging gililk (silindris) dengan ujung yang menyisip, misalnya biceps
  3. Otot daging sphincter dengan serat melingkar, misalnya sphincter yang berfungsi untuk menutup anus
Dalam berbagai gerakan tubuh, beberapa otot daging bereaksi bersama – sama dengan beberapa kontraksi. Koordinasi dalam hal ini ddilakukan oleh system saraf. Tiap – tiap serat atau berkas otot mempunyai akhir ujung saraf motoris yang membawa perintah untuk merangsang kontraksi.

Otot yang menyusun katak tampak dorsal
Otot yang menyusun katak tampakdorsal

Baca Artikel Terkait Lainnya

  1. Pengertian Otot, Karakteristik, dan Fungsi Otot 
  2. Mengenal Lebih Dekat Jenis-Jenis Otot 
  3. Sistem Muskularis Pada Pisces/Ikan (Otot Polos, Otot Lurik, Otot Jantung) 
  4. Sistem Muskularis Pada Amfibi 
  5. Jenis-Jenis Otot Pada Reptil / Sistem Muskularis Pada Reptil 
  6. Jenis-Jenis Otot Pada Aves / Sistem Muskularis Pada Aves
 
Copyright © 2013. IPA SMP
Template Created by IPA SMP