Mekanisme Sistem Konduksi, Kontraksi, Suara, dan Fase Kontraksi Jantung

Monday, July 4, 2016 | comments

1. Sistem Konduksi Jantung

Jantung mempunyai sistem saraf tersendiri yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot jantung yang disebut sistem konduksi jantung. Saraf pusat melalui sistem saraf autonom hanya mempengaruhi irama kontraksi jantung. Saraf simpatis memacu terjadinya kontraksi sedangkan saraf parasimpatis menghambat kontraksi. Sistem kontraksi jantung terdiri atas :
  • Nodus Sinoatri Alkularis (NSA) terletak pada atrium kanan dan dikenal sebagai peacemaker karena impuls untuk kontraksi dihasilkan oleh nodus ini.
  • Nodus Atrioventrikularis (NAV) terletak antara atrium dan ventrikel kanan berperan sebagai gerbang impuls ke ventrikel.
  • Bundle His adalah serabut saraf yang meninggalkan NAV.
  • Serabut Bundle Kanan dan Kiri adalah serabut saraf yang menyebar ke ventrikel terdapat pada septum interventrikularis.
  • Serabut Purkinje adalah serabut saraf yang terdapat pada otot jantung.
 

2. Kontraksi Dan Irama Jantung

Kontraksi jantung disebut disebut systole sedangkan relaksasi jantung atau pengisian darah pada jantung disebut diastole. Irama jantung dimulai dari pacemaker (NSA) dengan impuls 60-80 kali/menit. Semua bagian jantung dapat memancarkan impuls tersendiri tetapi dengan frekuensi yang lebih rendah.

Bagian jantung yang memancarkan impuls diluar NSA disebut focus ektopik yang menimbulkan perubahan irama jantung yang disebut aritmia. Aritmia dapat disebabkan oleh hipoksia, ketidakseimbangan elektrolit, kafein, nikotin karena hal tersebut dapat menyebabkan fokus ektopik kontraksi diluar kontraksi dari nodus NSA.

Jika terjadi hambatan aliran impuls dari NSA menuju NAV maka impuls saraf akan timbul dari nodus NAV dengan frekuensi yang lebih rendah yaitu sekitar 40-50 kali/menit. Jika ada hambatan pada bundle his atau serabut bundle kanan dan kiri maka otot jantung akan kontraksi dengan iramanya sendiri yaitu 20-30 kali/menit. Denyut jantung 20-30 kali/menit tidak dapat mempertahankan metabolisme otot. (Baca Juga Mekanisme Kontraksi Otot Jantung)

3. Suara Jantung

Suara jantung terjadi akibat proses kontraksi jantung.
  1. Suara jantung 1 (S1) timbul akibat penutupan katup mitral dan trikuspidalis
  2. Suara jantung 2 (S2) timbul akibat penutupan katup semilunaris aorta dan semilunaris pulmonal.
  3. Suara jantung 3 (S3) terjadi akibat pengisian ventrikel pada fase diastole.
  4. Suara jantung 4 (S4) terjadi akibat kontraksi atrium.
  5. Suara jantung 3 dan 4 terdengar pada jantung anak.

4. Fase Kontraksi Jantung

Pada fase pengisian ventikel dan kontraksi atrium katup mitral dan trikuspidalis terbuka darah akan mengalir dari atrium menuju ventrikel. Pada fase kontraksi ventrikel isometric ventrikel mulai kontraksi dan atrium relaksasi, katup mitral dan trikuspidalis tertutup dan katup semilunar aorta dan pulmonal belum terbuka.

Pada fase ejeksi ventikuler, katup semilunar aorta dan semilunar aorta dan semilunar pulmonal terbuka sehingga darah mengalir dari ventrikel menuju aorta dan arteri pulmonalis. Pada fase relaksasi isovolumentrik terjadi relaksasi ventrikel dan katup semilunar aorta dan pulmonal menutup sedangkan katup mitral dan katup trikuspidalis belum terbuka. (Baca Juga Mekanisme Kontraksi Otot Jantung)

5. Cardiac Output

Cardiac Output adalah volume darah yang dipompa oleh tiap ventrikel per menit. Hal ini disebabkan oleh kontraksi otot myocardium yang berirama dan sinkron, sehingga darahpun dipompa masuk ke dalam sirkulasi pulmonary dan sistemik.

Besar cardiac output ini berubah-ubah, tergantung kebutuhan jaringan perifer akan oksigen dan nutrisi. Karena curah jantung yang dibutuhkan juga tergantung dari besar serta ukuran tubuh, maka diperlukan suatu indikator fungsi jantung yang lebih akurat, yaitu yang dikenal dengan sebutan Cardiac Index.

Mekanisme Sistem Konduksi, Kontraksi, Suara, dan Fase Kontraksi Jantung
Mekanisme Sistem Konduksi, Kontraksi, Suara, dan Fase Kontraksi Jantung
Cardiac index ini didapatkan dengan membagi cardiac output dengan luas permukaan tubuh, dan berkisar antara 2,8-3,6 liter/menit/m2 permukaan tubuh.

Stroke Volume adalah volume darah yang dikeluarkan oleh ventrikel/detik. Sekitar dua per tiga dari volume darah dalam ventrikel pada akhir diastole (volume akhir diastolic) dikeluarkan selama sistolik.

Jumlah darah yang dikeluarkan tersebut dikenal dengan sebutan Fraksi Ejeksi; sedangkan volume darah yang tersisa di dalam ventrikel pada akhir sistolik disebut Volume Akhir Sistolik. Penekanan fungsi ventrikel, menghambat kemampuan ventrikel untuk mengosongkan diri, dan dengan demikian mengurangi stroke volume dan fraksi ejeksi, dengan akibat peningkatan volume sisa pada ventrikel.

Cardiac output (CO) tergantung dari hubungan yang terdapat antara dua buah variable, yaitu: frekuensi jantung dan stroke volume. CO = Frekuensi Jantung x Stroke Volume. Cardiac output dapat dipertahankan dalam keadaan cukup stabil meskipun ada pada salah satu variable, yaitu dengan melakukan penyesuaian pada variable yang lain.

Apabila denyut jantung semakin lambat, maka periode relaksasi dari ventrikel diantara denyut jantung menjadi lebih lama, dengan demikian meningkatkan waktu pengisian ventrikel. Dengan sendirinya, volume ventrikel lebih besar dan darah yang dapat dikeluarkan per denyut menjadi lebih banyak. Sebaliknya, kalau stroke volume menurun, maka curah jantung dapat distabilkan dengan meningkatkan kecepatan denyut jantung.

Tentu saja penyesuaian kompensasi ini hanya dapat mempertahankan curah jantung dalam batas-batas tertentu. Perubahan dan stabilisasi curah jantung tergantung dari mekanisem yang mengatur kecepatan denyut jantung dan stroke volume.

Sistem Peredaran Darah Kecil dan Sistem Peredaran Darah Besar

| comments

Terdapat dua mekanisme peredaran darah pada manusia yaitu sistem peredaran darah besar dan sistem peredaran darah kecil.

1. Sistem Peredaran Darah Besar (Sistemik)

Peredaran darah besar dan kecil
Peredaran darah besar dan kecil
Peredaran darah besar dimulai dari darah keluar dari jantung melalui aorta menuju ke seluruh tubuh (organ bagian atas dan organ bagian bawah). Melalui arteri darah yang kaya akan oksigen menuju ke sistem-sistem organ, maka disebut sebagai sistem peredaran sistemik.

Dari sistem organ vena membawa darah kotor menuju ke jantung. Vena yang berasal dari sistem organ di atas jantung akan masuk ke bilik kanan melalui vena cava inferior, sementara vena yang berasal dari sistem organ di bawah jantung dibawa oleh vena cava posterior.

Darah kotor dari bilik kanan akan dialirkan ke serambi kanan, selanjutnya akan dipompa ke paru-paru melalui arteri pulmonalis. Arteri pulmonalis merupakan satu keunikan dalam sistem peredaran darah manusia karena merupakan satu-satunya arteri yang membawa darah kotor (darah yang mengandung CO2).

Urutan perjalanan peredaran darah besar : bilik kiri – aorta – pembuluh nadi – pembuluh kapiler – vena cava superior dan vena cava inferior – serambi kanan.

Berikut ini adalah ciri – ciri sistem sirkulasi sistemik :

  1. Mengalirkan darah ke berbagai organ tubuh.
  2. Memenuhi kebutuhan organ yang berbeda.
  3. Memerlukan tekanan permulaan yang besar.
  4. Banyak mengalami tahanan.
  5. Kolom hidrostatik panjang.

2. Sistem Peredaran Darah Kecil (Pulmonal)

Peredaran darah kecil dimulai dari dari darah kotor yang dibawa arteri pulmonalis dari serambi kanan menuju ke paru-paru. Dalam paru-paru tepatnya pada alveolus terjadi pertukaran gas antara O2 dan CO2.

Gas O2 masuk melalui sistem respirasi dan CO2 akan dibuang ke luar tubuh. O2 yang masuk akan diikat oleh darah (dalam bentuk HbO) terjadi di dalam alveolus. Selanjutnya darah bersih ini akan keluar dari paru-paru melalui vena pulmonalis menuju ke jantung (bagian bilik kiri).

Vena pulmonalis merupakan keunikan yang kedua dalam system peredaran darah manusia, karena merupakan satu-satunya vena yang membawa darah bersih.

Urutan perjalanan peredaran darah kecil : bilik kanan jantung – arteri pulmonalis – paru-paru – vena pulmonalis – serambi kiri jantung.
peredaran darah kecil

Berikut ini adalah ciri –ciri dari sistem sirkulasi pulmonal :

  • Hanya mengalirkan darah ke paru
  • Hanya berfungsi untuk paru-paru
  • Mempunyai tekanan permulaan yang rendah
  • Hanya sedikit mengalami tahanan
  • Kolom hidrostatiknya pendek
Sistem peredaran besar ataupun kecil tidak dapat berjalan sendiri tanpa ada yang menggerakkan. Organ penting dalam pergerakan sistem sirkulasi adalah jantung. Jantung tersusun oleh otot – otot jantung yang terletak di lapisan miokardium.

Otot jantung mirip dengan otot skelet yaitu mempunyai serat otot. Perbedaannya otot jantung tidak dipengaruhi oleh saraf somatik, otot jantung bersifat involunter. Kontraksi otot jantung dipengaruhi oleh adanya peacemaker pada jantung.

Kontraksi pada otot jantung juga dipengaruhi oleh metabolisme otot jantung. Metabolisme otot jantung tergantung sepenuhnya pada metabolisme aerobik. Otot jantung sangat banyak mengandung mioglobin yang dapat mengikat oksigen. Karena metabolisme sepenuhnya adalah aerob, otot jantung tidak pernah mengalami kelelahan. Pembahasan lebih rinci mengenai otot jantung dapat dilihat pada materi mekanisme kontraksi otot jantung dan materi mengenal jenis-jenis otot


Jenis-Jenis Pembuluh Darah dan Komponen Penyusun Darah

| comments

Pembuluh Darah

Berfungsi untuk mengalirkan darah menuju ke jaringan dan sebaliknya. Pada vertebrata, sistem pembuluh darah terdiri atas tiga jenis, yaitu arteri, kapiler dan vena. Arteri dan vena tersusun atas tiga lapisan jaringan melingkar, membentuk saluran/ lumen di bagian tengahnya.

Ketiga lapisan jaringan tersebut berturut – turut dari arah dalam ke luar adalah tunika intima (endotelium), tunika media dan tunika adventitia. Pembuluh kapiler hanya tersusun atas tunika intima.

1. Arteri

Berfungsi untuk mengangkut darah yang keluar jantung. Darah dalam arteri mengeluarkan tekanan yang cukup besar terhadap dinding pembuluh. Untuk menahan tekanan tersebut, arteri harus mempunyai dinding yang cukup tebal dan kuat.

anatomi struktur pembuluh darah
anatomi struktur pembuluh darah
Kekuatan tekanan darah tersebut sebenarnya berasal dari kekuatan yang dihasilkan oleh jantung saat berkontraksi. Dengan demikian, keberadaan serabut elastis pada dinding arteri sangat penting untuk memastikan aliran darah yang konstan ke kapiler.
Tekanan pada arteri ketika jantung berkontraksi dan berelaksasi disebut tekanan sistolik dan tekanan diastolik.

2. Kapiler

Merupakan pembuluh darah terkecil dalam sistem sirkulasi. Kapiler merupakan tempat terjadinya pertukaran gas serta berbagai zat lainnya anatara pembuluh darah dan sel jaringan.

Fungsi embuluh kapiler sebagai tempat pertukaran zat didukung oleh struktur pembuluh tersebut, yakni sangat tipis dan hanya tersusun atas satu lapis sel endotelial, serta total luas permukaannya yang sangat besar.

3. Vena

Vena merupakan pembuluh darah yang berfungsi untuk membawa darah dari jaringan kembali ke jantung. Venula adalah pembuluh vena paling kecil dan berhubungan langsung dengan kapiler.

Tekanan dalam venula jauh lebih rendah daripada tekanan dalam arteri, dan dinding pembuluh venapun lebih tipis daripada dinding pembuluh arteri. Sebagian besar vena dilengkapi dengan banyak klep, yang berguna untuk mencegah aliran darah kembali ke arah jaringan dan menjamin kelancaran aliran darah menuju jantung.

Berikut ini adalah perbedaan pembuluh darah arteri dan vena.

Komponen Penyusun Darah

Berfungsi mengangkut O2 dan CO2, zat-zat makanan dan sebaganya ke jaringan dan sebaliknya.
Darah tersusun atas plasma darah dan sel darah. Sel darah mencakup eritrosit, leukosit dan trombosit. Plasma darah mengandung sekitar 90% air dan berbagai zat terlarut/ tersuspensi di dalamnya. Zat tersuspensi tersebut mencakup beberapa jenis bahan berikut :

1. Protein plasma

Merupakan bahan yang penting untuk menentukan besarya tekanan osmotik dalam plasma. Kekuatan osmotik juga penting untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh pada hewan invertebrata, yang mempunyai sistem sirkulasi terbuka.

Pada hewan vertebrata tingkat tinggi, protein plasma dibedakan menjadi tiga yaitu : fibrinogen yang bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah, albumin yang bertanggung jawab mempertahankan volume plasma dan globulin yang betanggung jawab dalam berbagai fungsi, terutama yang berkaitan dengan reaksi kekebalan dan tarnspor molekul tertentu seperti hormon, vitamin dan zat besi.
  • Sari makanan, yaitu glukosa, monosakarida, asam amino dan lipid.
  • Bahan untuk dibuang dari tubuh, antar lain urea dan senyawa nitrogen.
  • Berbagai ion, misalnya natrium, kalium, klor, fosfat, kalsium, sulfat dan senyawa bikarbonat.
  • Bahan lain yang biasanya terdapat dalam darah, misalnya hormon, gas respiratori, vitamin dan enzim.

2. Sel Darah

A. Sel darah merah (eritrosit) berbentuk seperti cakram, tak berinti, ukuran ±7ยต, mengandung pigmen hemoglobin, pada pria jumlahnya ±5 juta per mm3, pada wanita ±4,5 juta er mm3.
Sel darah merah/eritrosit
Sel darah merah/eritrosit

B. Sel darah putih (leukosit), jumlah pada manusia normalnya berkisar antara 5.000 – 8.000 per mm3, terbagi menjadi dua golongan, yaitu :
  • Agranuler, terdiri dari limfosit (ukurannya kecil, mempunyai kromatin padat) dan monosit (ukurannya lebih besar dan kromatinnya tidak begitu padat).
  • Granuler, sitoplasmanya mengandung butir – butir granula, yang mudah menyerap zat warna. Macamnya adalah eosinofil (granulanya menyukai warna eosin), basofil (granulanya menyukai zat warna basa) dan eosinofil (bersifat netral dengan inti polimorf).

Neutrofil

Neutrofil adalah kelompok terbesar dari sel darah putih, membuat sekitar 45 sampai 75 persen dari jumlah darah putih. Neutrofil adalah fagosit, pemain utama dalam memerangi infeksi bakteri dan virus. Penurunan neutrofil di bawah 1.000 sel per mikroliter meningkatkan risiko pengembangan infeksi.

Neutrofil adalah “responden pertama” dalam peradangan: yang pertama di tempat kejadian untuk menghancurkan bakteri dan virus. Neutrofil memiliki jangka hidup yang pendek, hanya sekitar 10 jam. Neutrofil belum matang, yang disebut band, banyak di infeksi yang aktif. Penurunan neutrofil dikenal sebagai neutropenia, penyebab neutropenia termasuk pengobatan kemoterapi, infeksi bakteri dan virus, dan reaksi alergi.

Limfosit

Limfosit terdiri dari kelompok terbesar kedua dari sel-sel darah putih, 20 sampai 40 persen dari sel-sel darah putih adalah limfosit, menurut Merck. Ada tiga jenis limfosit: sel T, sel B dan sel-sel pembunuh alami. Sel B membuat antibodi yang menyerang antigen asing.

Sel T dan sel-sel pembunuh alami menyerang sel-sel asing dan juga membuat racun yang merusak penyerang. Peningkatan limfosit biasanya menunjukkan infeksi virus atau beberapa jenis infeksi bakteri. Sejumlah penurunan sel T ditemukan dalam infeksi, sel-sel tumor dan virus HIV. Limfosit yang meningkat menandakan infeksi dan penyakit seperti mononukleosis, menurut University of Nebraska at Omaha states.

Monosit

Monosit membuat 1 sampai 10 persen dari sel-sel darah putih. Monosit bergerak keluar dari aliran darah dan ke dalam jaringan, di mana mereka berubah menjadi makrofag, sel pemulung besar yang menghancurkan sel-sel asing, mengangkat jaringan mati dan membunuh sel kanker. Monosit akan meningkat saat infeksi kronis dan penyakit autoimun, kemoterapi dapat menyebabkan penurunan tingkat monosit.

Eosinofil

Eosinofil membentuk sekitar 7 persen dari sel-sel darah putih dan memulai reaksi alergi terhadap alergen. Sebuah jumlah yang meningkat dari eosinofil paling sering menunjukkan respon reaksi alergi, University of Nebraska at Omaha states, stres yang ekstrim atau invasi parasit juga dapat menyebabkan peningkatan eosinofil.

Basofil

Basofil mewakili kurang dari 3 persen dari sel-sel darah putih. Basofil berperan dalam reaksi alergi dengan melepaskan histamin, yang menyebabkan pembuluh darah membesar. Basofil juga membantu dalam memperbaiki luka dengan melepaskan heparin, yang menunda pembekuan darah sehingga lebih banyak sel dapat mencapai lokasi luka.
Leukosit
Leukosit

C. Trombosit (keping – keing darah), berfungsi dalam pembekuan darah, strukturnya berupa keping – keping kecil.
skema pembekuan darah
skema pembekuan darah

Pembagian Katup Jntung dan Lapisan-Lapisan Jantung

| comments

1. Katup-katup Jantung

Katup jantung berfungsi mempertahankan aliran darah searah melalui bilik-bilik jantung. Setiap katup berespon terhadap perubahan tekanan. Katup-katup terletak sedemikian rupa, sehingga mereka membuka dan menutup secara pasif karena perbedaan tekanan, serupa dengan pintu satu arah. Katup jantung dibagi dalam dua jenis, yaitu katup atrioventrikuler, dan katup semilunar.

a) Katup Atrioventrikuler

Letaknya antara atrium dan ventrikel, maka disebut katup atrioventrikuler. Katup yang terletak di antara atrium kanan dan ventrikel kanan mempunyai tiga buah katup disebut katup trikuspid.
Terdiri dari tiga otot yang tidak sama, yaitu:
1) Anterior, yang merupakan paling tebal, dan melekat dari daerah Infundibuler ke arah kaudal menuju infero-lateral dinding ventrikel Dekster.


2) Septal, melekat pada kedua bagian septum muskuler maupun membraneus. Sering menutupi VSD kecil tipe alur keluar.

3) Posterior, yang merupalan paling kecil, Melekat pada cincin tricuspidalis pada sisi postero-inferior.

Sedangkan katup yang letaknya di antara atrium kiri dan ventrikel kiri mempunyai dua daun katup disebut katup mitral/ katup bikuspid. Terdiri dari dua bagian, yaitu daun katup mitral anterior dan posterior. Daun katup anterior lebih lebar dan mudah bergerak, melekat seperti tirai dari basal bentrikel Sinister dan meluas secara diagonal sehingga membagi ruang aliran menjadi alur masuk dan alur keluar.

b) Katup Semilunar

Disebut semilunar (“bulan separuh”) karena terdiri dari tiga daun katup, yang masing-masing mirip dengan kantung mirip bulan separuh. Katup semilunar memisahkan ventrikel dengan arteri yang berhubungan.

Katup pulmonal terletak pada arteri pulmonalis, memisahkan pembuluh ini dari ventrikel kanan. Katup aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta. Adanya katup semilunar ini memungkinkan darah mengalir dari masing-masing ventrikel ke arteri pulmonalis atau aorta selama systole ventrikel, dan mencegah aliran balik waktu diastole ventrikel .
pembagian katup jantung
pembagian katup jantung

2. Lapisan Jantung

Dinding jantung terutama terdiri dari serat-serat otot jantung yang tersusun secara spiral dan saling berhubungan melalui diskus interkalatus. Dinding jantung terdiri dari tiga lapisan berbeda, yaitu:

a) Perikardium (Epikardium)

Epi berarti “di atas”, cardia berarti “jantung”, yang mana bagian ini adalah suatu membran tipis di bagian luar yang membungkis jantung.
Terdiri dari dua lapisan, yaitu
1. Perikardium fibrosum (viseral), merupakan bagian kantong yang membatasi pergerakan jantung terikat di bawah sentrum tendinium diafragma, bersatu dengan pembuluh darah besar merekat pada sternum melalui ligamentum sternoperikardial.

2. Perikardium serosum (parietal), dibagi menjadi dua bagian, yaitu Perikardium parietalis membatasi perikarduim fibrosum sering disebut epikardium, dan Perikarduim fiseral yang mengandung sedikit cairan yang berfungsi sebagai pelumas untuk mempermudah pergerakan jantung.

b) Miokardium

Myo berarti “otot”, merupakan lapisan tengah yang terdiri dari otot jantung, membentuk sebagian besar dinding jantung. Serat-serat otot ini tersusun secara spiral dan melingkari jantung. Lapisan otot ini yang akan menerima darah dari arteri koroner.

c) Endokardium

Endo berarti “di dalam”, adalah lapisan tipis endothelium, suatu jaringan epitel unik yang melapisi bagian dalam seluruh sistem sirkulasi.
lapisan jantung
lapisan jantung

Letak Jantung dan Pembagian Ruang-Ruang Jantung

| comments

A. Letak Jantung

Jantung adalah organ berotot dengan ukuran sekepalan. Jantung terletak di rongga toraks (dada) sekitar garis tengah antara sternum atau tulang dada di sebelah anterior dan vertebra (tulang punggung) di sebelah posterior.

Bagian depan dibatasi oleh sternum dan costae 3,4, dan 5. Hampir dua per tiga bagian jantung terletak di sebelah kiri garis median sternum. Jantung terletak di atas diafragma, miring ke depan kiri dan apex cordis berada paling depan dalam rongga thorax.

Apex cordis dapat diraba pada ruang intercostal 4-5 dekat garis medio-clavicular kiri. Batas cranial jantung dibentuk oleh aorta ascendens, arteri pulmonalis, dan vena cava superior. Pada dewasa, rata-rata panjangnya kira-kira 12 cm, dan lebar 9 cm, dengan berat 300 sampai 400 gram.
Posisi jantung
Posisi jantung

B. Ruang Jantung

Jantung dibagi menjadi separuh kanan dan kiri, dan memiliki empat ruang, ruang bagian atas dan bawah di kedua belahannya. Ruang - ruang atas disebut atria (atrium, tunggal) menerima darah yang kembali ke jantung dan memindahkannya ke ruang – ruang bawah yang disebut ventrikel dan berfungsi memompa darah dari jantung.
Kedua belahan jantung dipisahkan oleh septum, suatu partisi otot kontinu yang mencegah pencampuran darah dari kedua sisi jantung. Pemisahan ini sangat penting, karena separuh kanan jantung menerima dan memompa darah beroksigen rendah sementara sisi kiri jantung menerima dan memompa darah beroksigen tinggi.

1) Atrium Dekster (Serambi kanan)

Dinding atrium Dekster tipis, rata-rata 2 mm. Terletak agak ke depan dibandingkan ventrikel Dekster dan atrium Sinister. Atrium Dekster merupakan muara dari vena cava. Vena cava superior bermuara pada dinding supero-posterior.

Vena cava inferior bermuara pada dinding infero-latero-posterior pada muara vena cava inferior ini terdapat lipatan katup rudimenter yang disebut Katup Eustachii. Pada dinding medial atrium Dekster bagian postero-inferior terdapat Septum Inter-Atrialis. Fungsi atrium Dekster adalah tempat penyimpanan dan penyalur darah dari vena-vena sirkulasi sistemik ke dalam ventrikel Dekster dan kemudian ke paru-paru.

2) Atrium Sinister (Serambi kiri)

Terletak postero-superior dari ruang jantung lain, sehingga pada foto sinar tembus dada tidak tampak. Tebal dinding atrium sinister 3 mm, sedikit lebih tebal dari pada dinding atrium dekster.

Endocardiumnya licin. Atrium sinister menerima darah yang sudah dioksigenasi dari 4 vena pumonalis yang bermuara pada dinding postero-superior atau postero-lateral, masing-masing sepasang vena dekster et sinister. Antara vena pulmonalis dan atrium Sinister tidak terdapat katup sejati.

Oleh karena itu, perubahan tekanan dalam atrium Sinister membalik retrograde ke dalam pembuluh darah paru. Peningkatan tekanan atrium Sinister yang akut akan menyebabkan bendungan pada paru. Darah mengalir dari atrium Sinister ke ventrikel Sinister melalui katup mitralis.

3) Ventrikel Dekster (Bilik kanan)

Terletak di ruang paling depan di dalam rongga thorax, tepat di bawah manubrium sterni. Sebagian besar ventrikel kanan berada di kanan depan ventrikel Sinister dan di medial atrium Sinister. Ventrikel Dekster berbentuk bulan sabit atau setengah bulatan, tebal dindingnya 4-5 mm.

Bentuk ventrikel kanan seperti ini guna menghasilkan kontraksi bertekanan rendah yang cukup untuk mengalirkan darah ke dalam arteria pulmonalis. Sirkulasi pulmonar merupakan sistem aliran darah bertekanan rendah, dengan resistensi yang jauh lebih kecil terhadap aliran darah dari ventrikel dekster, dibandingkan tekanan tinggi sirkulasi sistemik terhadap aliran darah dari ventrikel kiri.
Letak Jantung dan Pembagian Ruang-Ruang Jantung
Letak Jantung dan Pembagian Ruang-Ruang Jantung
Karena itu beban kerja dari ventrikel kanan jauh lebih ringan daripada ventrikel kiri. Oleh karena itu, tebal dinding ventrikel dekster hanya sepertiga dari tebal dinding ventrikel sinister. Selain itu, bentuk bulan sabit atau setengah bulatan ini juga merupakan akibat dari tekanan ventrikel sinister yang lebih besar daripada tekanan di ventrikel dekster.

Disamping itu, secara fungsional, septum lebih berperan pada ventrikel sinister, sehingga sinkronisasi gerakan lebih mengikuti gerakan ventrikel sinister. Atrium dekster dan ventrikel dekster dipisahkan oleh suatu katup atrioventrikularis (AV) yakni katup trikuspidalis.

4) Ventrikel Sinister (Bilik Kiri)

Berbentuk lonjong seperti telur. Tebal dinding ventrikel sinister 2-3x lipat tebal dinding ventrikel dekster, sehingga menempati 75% masa otot jantung seluruhnya. Tebal ventrikel sinister saat diastole adalah 8-12 mm.

Ventrikel sinister harus menghasilkan tekanan yang cukup tinggi untuk mengatasi tahanan sirkulasi sistemik, dan mempertahankan aliran darah ke jaringan-jaringan perifer. Sehingga keberadaan otot-otot yang tebal dan bentuknya yang menyerupai lingkaran, mempermudah pembentukan tekanan tinggi selama ventrikel berkontraksi.

Batas dinding medialnya berupa septum interventrikulare yang memisahkan ventrikel sinister dengan ventrikel dekster. Rentangan septum ini berbentuk segitiga, dimana dasar segitiga tersebut adalah pada daerah katup aorta. Atrium Sinister dan ventrikel sinister dipisahkan oleh suatu katup atrioventrikularis (AV) yakni katup bikuspidalis.

Jenis-Jenis sistem Sirkulasi Darah Pada Hewan

Sunday, July 3, 2016 | comments

Tidak semua hewan mempunyai sistem sirkulasi khusus. Pada hewan berukuran kecil, berbagai macam zat seperti makanan, gas respiratori, dan sisa metabolisme dapat berdifusi melalui ruang antar sel dengan mudah. Dengan demikian, struktur khusus untuk mentranspor zat – zat tersebut tidak diperlukan. Dengan kata lain, berbagai hewan kecil tidak memerlukan sistem sirkulasi khusus untuk tarnspor berbagai macam zat.

Akan tetapi, proses difusi berlangsung sangat lambat sehingga cara tersebut tidak mungkin dapat memenuhi semua kebutuhan hewan besar ( dengan ketebalan tubuh lebih dari beberapa milimeter ) dan atau hewan yang memiliki aktivitas metabolisme tinggi.

Oleh karena itu, hewan besar dan atau hewan yang memiliki aktivitas metabolisme tinggi memerlukan sirkulasi khusus. Sistem sirkulasi khusus tersebut diperlukan untuk menjamin adanya pergerakan cairan (beserta sejumlah besar zat yang terlarut di dalamnya) ke seluruh tubuh secara cepat.

Jenis – jenis sistem sirkulasi :

A. Sistem sirkulasi terbuka

Terdapat pada artropoda dan sebagian besar mollusca. Pada hewan – hewan ini, cairan sirkulasi disebut dengan hemolimfe, juga merupakan cairan interstisial. Kontraksi satu atau lebih jantung memompa hemolimfe melalui pembuluh-pembuluh sirkulasi ke dalam sinus-sinus yang saling terkoneksi, yaitu ruang-ruang disekitar organ – organ.

Di dalam sinus, pertukaran kimiawi terjadi antara hemolimfe dan sel-sel darah. Relaksasi jantung menarik kembali hemolimfe melalui pori-pori dan pergerakan tuubuh membantu mengedarkan hemolimfe melalui peremasan sinus-sinus secara periodik.
sistem sirkulasi terbuka
sistem sirkulasi terbuka

B. Sistem sirkulasi tertutup

Darah tertahan dalam pembuluh darah dan berbeda dari cairan interstisial. Satu atau lebih jantung memompa darah ke pembuluh-pembuluh besar yang becabang-cabang ke dalam pembuluh-pembuluh yang lebih kecil melalui organ-organ. Material – material dipertukarkan antara pembuluh darah terkecil dan cairan interstisial yang merendam sel – sel.

sistem sirkulasi tertutup meliputi sistem kardiovaskuler dan sistem limfatik. Annelida (termasuk cacing tanah), chepalopoda (termasuk cumi-cumi dan gurita) dan semua vertebrata memiliki sistem sirkulasi tertutup.
sistem sirkulasi tertutup
sistem sirkulasi tertutup

Tekanan hidrostatik lebih rendah yang terkait dengan sistem sirkulasi terbuka membuat sistem tersebut membutuhkan pengeluaran energi yang lebih rendah daripada sistem sirkulasi tertutup. Pada beberapa invertebrata, sistem sirkulasi terbuka memiliki fungsi – fungsi tambahan. Misalnya, pada laba – laba, tekanan hidrostatik yang dihasilkan oleh sistem sirkulasi terbuka memberikan tenaga yang digunakan untuk memperpanjang kaki – kaki hewan.

Manfaat – manfaat dari sistem sirkulasi tertutup mencakup tekanan darah yang relatif tinggi, yang memungkinkan pengantaran O2 dan nutrien – nutrien yang efektif menuju ke sel – sel dari hewan – hewan yang lebih besar dan lebih aktif.

Sistem sirkulasi tertutup meliputi dua sistem, yaitu :

a. Sistem kardiovaskuler : Sistem ini meliputi cor (jantung) dengan vasa-vasanya baik arteri maupun vena
b. Sistem limfatik : Sistem ini meliputi duktus limfatikus (saluran limfe) dan cairan limfe.

Mengenal Lebih Dekat Sistem Digesti Pada Mamalia Ruminansia

| comments

Hewan-hewan herbivora (pemakan rumput) seperti domba, sapi, kerbau disebut sebagai hewan memamah biak (ruminansia). Sistem pencernaan makanan pada hewan ini lebih panjang dan kompleks.

Makanan hewan ini banyak mengandung selulosa yang sulit dicerna oleh hewan pada umumnya sehingga sistem pencernaannya berbeda dengan sistem pencernaan hewan lain.
Perbedaan sistem pencernaan makanan pada hewan mammalia, tampak pada struktur gigi, yaitu terdapat geraham belakang (molar) yang besar, berfungsi untuk mengunyah rerumputan yang sulit dicerna.

Sapi, misalnya, mempunyai susunan gigi sebagai berikut:

3   3 0 0 0 0  0  0 Rahang atas
M P C I  I  C P M Jenis gigi
3  3  0 4 4  0  3  3 Rahang bawah

I = insisivus = gigi seri
C = kaninus = gigi taring
P = premolar = gerahamdepan
M = molar = geraham belakang


Berdasarkan susunan gigi di atas, terlihat bahwa sapi (hewan memamah biak) tidak mempunyai gigi seri bagian atas dan gigi taring, tetapi memiliki gigi geraham lebih banyak dibandingkan dengan manusia sesuai dengan fungsinya untuk mengunyah makanan berserat, yaitu penyusun dinding sel tumbuhan yang terdiri atas 50% selulosa.
struktur gigi pada ruminansia
struktur gigi pada ruminansia
Jika dibandingkan dengan kuda, faring pada sapi lebih pendek. Esofagus (kerongkongan) pada sapi sangat pendek dan lebar serta lebih mampu berdilatasi (mernbesar). Esofagus berdinding tipis dan panjangnya bervariasi diperkirakan sekitar 5 cm.

Lambung sapi sangat besar, diperkirakan sekitar 3/4 dari isi rongga perut. Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan dimamah kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung juga terjadi proses pembusukan dan peragian.

Lambung ruminansia terdiri atas 4 bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasum 7-8%. Pembagian ini terlihat dari bentuk gentingan pada saat otot sfinkter berkontraksi.

Makanan dari kerongkongan akan masuk rumen yang berfungsi sebagai gudang sementara bagi makanan yang tertelan. Di rumen terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri dan jenis protozoa tertentu. Dari rumen, makanan akan diteruskan ke retikulum dan di tempat ini makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar (disebut bolus).

Bolus akan dimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari mulut makanan akan ditelan kembali untuk diteruskan ke ornasum. Pada omasum terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum, yaitu perut yang sebenarnya dan di tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim.

Hewan seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur lambung seperti pada sapi untuk fermentasi seluIosa. Proses fermentasi atau pembusukan yang dilaksanakan oleh bakteri terjadi pada sekum yang banyak mengandung bakteri. Proses fermentasi pada sekum tidak seefektif fermentasi yang terjadi di lambung.

sistem pencernaan pada mamalia ruminansia
sistem pencernaan pada mamalia ruminansia
Akibatnya kotoran kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar karena proses pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yakni pada sekum. Sedangkan pada sapi proses pencernaan terjadi dua kali, yakni pada lambung dan sekum yang kedua-duanya dilakukan oleh bakteri dan protozoa tertentu. Pada kelinci dan marmut, kotoran yang telah keluar tubuh seringkali dimakan kembali. Kotoran yang belum tercerna tadi masih mengandung banyak zat makanan, yang akan dicernakan lagi oleh kelinci.

Usus pada sapi sangat panjang, usus halusnya bisa mencapai 40 meter. Hal itu dipengaruhi oleh makanannya yang sebagian besar terdiri dari serat (selulosa).Enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri ini tidak hanya berfungsi untuk mencerna selulosa menjadi asam lemak, tetapi juga dapat menghasilkan bio gas yang berupa CH4 yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif.

Pencernaan Karbohidrat

Pencernaan karbohidrat dimulai di mulut, dimana bahan makanan bercampur dengan ptialin, yaitu enzim yang dihasilkan oleh kelenjar saliva (saliva hewan ruminansia sama sekali tidak mengandung ptyalin). Ptialin mencerna pati menjadi maltosa dan dekstrin. Pencernaan tersebut sebagian besar terjadi di mulut dan lambung. Mucin dalam saliva tidak mencerna pati, tetapi melumasi bahan makanan sehingga dengan demikian bahan makanan mudah untuk ditelan.

Mikroorganisme dalam rumen merombak selulosa untuk membentuk asam-asam lemak terbang. Mikroorganisme tersebut mencerna pula pati, gula, lemak, protein dan nitrogen bukan protein untuk membentuk protein mikrobial dan vitamin B. Tidak ada enzim dari sekresi lambung ruminansia tersangkut dalam sintesis mikrobial.

Amilase dari pankreas dikeluarkan ke dalam bagian pertama usus halus (duodenum) yang kemudian terus mencerna pati dan dekstrin menjadi dekstrin sederhana dan maltosa. Enzim-enzim lain dalam usus halus yang berasal dari getah usus mencerna pula karbohidrat.

Enzim-enzim tersebut adalah
  1. Sukrase (invertase) yang merombak sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.
  2. Maltase yang merombak maltosa menjadi glukosa
  3. Laktase yang merombak laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.
Mengenal Lebih Dekat Sistem Digesti Pada Mamalia Ruminansia
Mengenal Lebih Dekat Sistem Digesti Pada Mamalia Ruminansia

    Anonim. 2012. Sistem Organ Hewan. http://materi78.co.nr/2012/12/orga1_bio2_1.pdf. Diakses pada 5 Maret 2015. 20:00 WIB

    Campbell, N.A., Reece, J. B., Mitchell, L. G. 2002. Biologi, edisi Kelima, Jilid 3. Jakarta : Penerbit Erlangga.

    Djuhanda, Tatang. 1984. Analisa Struktur Vertebrata Jilid 2. Bandung : Armico.

    Handari Suntora, Susilo. Dkk. 1993. Materi Pokok Anatomi dan Fisiologi Hewan. Jakarta : Universitas Terbuka, Depdikbud.

    Nugroho, G. 2014. Sistem Pencernaan Hewan. http://staff.unila.ac.id/. Diakses pada 5 Maret 2015. 19:00 WIB.

    Ville. 1988. Zoology umum Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
     
    Copyright © 2013. IPA SMP
    Template Created by IPA SMP